Latest Posts

09 April 2015

Jim Rohn - Jika Kita Berubah, Hal Lain Akan Berubah untuk Kita



"...tak perlu berbuat apa-apa untuk kondisi ekonomi. Anda hanya perlu bekerja...untuk memperbaiki diri. Membuat diri Anda menjadi lebih bernilai."

"Inilah apa yang mentor saya katakan, salah satu saran terbaik yang pernah saya dapat...Dia berkata, 'Mr. Rohn, jika Anda akan berubah, maka hal lainnya akan berubah untuk Anda."








read more...

22 Januari 2015

Tak Ada yang Berubah, Tapi Berubah Juga

Ilustrasi


Ketika membaca buku "Islam, Risalah Cinta dan Kebahagiaan" tulisan Pak Haidar Bagir, ada satu cerita (yang kemudian saya ketahui berasal dari buku "Man's Search for Meaning") yang mengingatkan saya sekali lagi tentang pentingnya sudut pandang.

Dikisahkan ada seorang pria tua datang untuk bertemu Dr. Viktor Frankl, seorang psikolog ternama, dan pria itu kelihatan dalam keadaan bersedih dan depresi.

Kepada Dr. Frankl pria tersebut memaparkan apa yang menjadi masalahnya selama ini: ia baru saja ditinggal oleh istrinya untuk selama-lamanya.

Pria itu merasa sangat sedih dan tertekan, karena istri yang begitu dicintainya dan telah hidup bersamanya selama ini telah lebih dahulu meninggal dunia, sehingga tidak ada lagi teman yang selalu ada untuk saling berbagi. Perasaan pria tua itu sangatlah hancur, serasa hidup sudah tidak ada maknanya lagi.

Setelah ia bercerita kepada Dr. Frankl, sang psikolog pun bertanya,

"Bagaimana jika justru Anda yang meninggal dunia terlebih dahulu, dan istri Anda harus hidup tanpa Anda?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pria tadi menjawab,

"Jika itu terjadi, maka pastilah dia akan merasa sedih dan menderita."

Mendengar jawaban sang pria, Dr. Frankl menyambung,

“Kalau begitu, berarti istri Anda telah terhindar dari penderitaan; dan Andalah yang menyelamatkannya dari penderitaan. Tapi sekarang Anda harus membayarnya dengan hidup tanpanya.”

Pria tadi tidak mengatakan apa-apa, tapi ia menyalami Dr. Frankl dan pergi dengan lebih tenang dari sebelumnya.

Secara eksternal tidak ada yang berubah. Istrinya tidak akan kembali lagi, tapi pria tadi telah menemukan makna baru dengan mengubah sudut pandangnya.




Foto:

By Hackfish (Own work) 
[CC BY-SA 2.5, GFDL, CC BY-SA 2.5, GFDL or CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons






read more...

22 November 2014

Knowledge Is Power - Kurio App Review

DerekHummer
Ilustrasi - Power


 Jangan pernah menonton berita mainstream di TV.

Itulah salah satu kiat sukses dari penulis ternama, Joe Vitale.

Saya adalah salah satu penggemar karya-karya Joe, dan kiat tersebut sangat masuk akal. Mengapa menghindari berita mainstream justru bisa membantu?

Karena sebagian besar isinya negatif.

Dan hal-hal negatif tersebut diulang-ulang sampai saya bosan.

Memang banyak juga berita-berita inspiratif dan bermanfaat, dan itulah perlunya menyaring dan membatasi informasi, terutama di era informasi seperti sekarang ini.

Contohnya, tanpa adanya berita, saya tidak akan mengetahui informasi tentang adanya sebuah lomba blog yang diadakan oleh Dirjen SDA PU baru-baru ini. Ketika saya mencari-cari update, di Twitter saya mendapatkan informasi dari Metro TV News tentang adanya lomba tersebut.

Berita tentang Lomba Blog di MetroTVNews.com

Lomba tersebut ternyata sangat sedikit yang mengetahui, dan bisa saya bilang merupakan salah satu lomba termudah yang pernah saya ikuti karena pesaingnya sedikit sekali. Alhasil, saya berhasil menjadi salah satu pemenang.

Itulah salah satu bukti bahwa knowledge is power. Knowledge alias pengetahuan atau informasi adalah kekuatan. Pastinya ada banyak orang yang lebih baik dari saya yang bisa mengikuti lomba tersebut dan menjadi pemenangnya, tapi karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang adanya lomba tersebut, maka mereka tidak mendapatkan apa-apa.

Contoh lainnya lagi, dari situs-situs berita saya tahu ada yang namanya kompetisi memegang mobil di Singapura. Hadiahnya besar sekali, meskipun "hanya" perlu ketahanan memegang mobil.

Siapa saja bisa memegang mobil, tapi yang tidak memiliki knowledge bahwa ada lomba seperti itu, ya tidak bisa dapat keuntungan.

Atau mungkin contoh yang lain lagi, Robert Kiyosaki sampai mengatakan bahwa knowledge adalah uang. Iya, uang!



 Knowledge is the new money"


Begitu tepatnya.

Maksudnya?

Maksudnya begini, apakah Anda setuju dengan pendapat bahwa kita harus punya uang dahulu untuk bisa menghasilkan uang? Misalnya jika ingin mulai berbisnis, karena tidak ada uang maka Anda tidak bisa berbisnis?

Tentu tidak.

Kita tidak perlu uang untuk bisa mendapatkan uang. Kita hanya perlu memiliki ide atau knowledge alias pengetahuan yang tepat untuk mendapatkannya.

Saya juga pernah menulis dalam artikel sebelumnya bahwa Robert Kiyosaki mengatakan bahwa pengetahuan yang tepat seperti tren harga emas misalnya, juga bisa sangat menentukan apakah kita akan mendapatkan atau justru kehilangan uang.

Contoh lainnya yang muncul di kepala saya adalah ketika masa kampanye calon presiden lalu.

Seperti yang diberitakan MetroTVNews.com, Pak Jokowi yang waktu itu masih menjadi capres dan mengunjungi pengungsi Sinabung pernah mengatakan akan membantu korban-korban di sana. Saat itu, dia mengatakan akan memprioritaskan biaya pendidikan bagi 83 pengungsi Sinabung yang diterima masuk ke Universitas negeri di sana.

Pak Jokowi mengatakan, 

"Kalau masalah uang saya enggak punya, tapi saya bisa mencarikan yang 83 (mahasiswa korban erupsi Sinabung) itu saya bisa menyelesaikan,"

Ya, mungkin uang tidak punya, tapi dia yakin sekali karena punya knowledge bagaimana supaya bisa mendapatkan uang tersebut.

Kalau yang tidak tahu, pasti sudah menyerah.

"Ah, saya pingin banget bantu, tapi nggak punya uang..."

Itulah beberapa contoh knowledge is power menurut saya.

Karena itu, saya suka membaca-baca informasi melalui smartphone saya. Untuk bisa menyaring informasi, saya baru-baru ini mencoba aplikasi lokal baru bernama Kurio.

Dengan Kurio, saya bisa melewatkan berita-berita negatif dan hanya fokus kepada topik yang saya ikuti saja.

Berikut ulasan singkat saya tentang Kurio.

Kurio - Smart News Reader

Apa itu Kurio?

Kurio merupakan aplikasi smartphone untuk membaca berita.

Apa yang membuat saya pribadi berminat menggunakan aplikasi ini adalah, selain karena buatan developer lokal, tampilan atau desainnya begitu unik dan menarik, dan tentunya gratis! Dengan begitu, tentunya aktivitas membaca menjadi lebih "hidup".

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dengan Kurio kita bisa memuaskan rasa keingintahuan kita dengan mengumpulkan topik-topik yang kita minati, baik dari sumber lokal maupun internasional.



Mengapa Kurio, bukan yang lain?

Ringan



Kurio app hanya berukuran 4.7 M menurut informasi di Google Play, jadi tidak memakan banyak memori di smartphone. Meskipun ringan, tapi aplikasi ini mampu berfungsi secara maksimal.

Ini terbukti dengan banyaknya review positif yang ditinggalkan oleh penggunanya, termasuk saya :-)



Navigasi Unik dan Menarik

Unsur estetika sangatlah membantu dan membuat aktivitas membaca menjadi semakin mengasyikkan. Kurio memiliki desain navigasi unik berupa kipas warna-warni sehingga tidak nampak membosankan.

Di setiap ruas kipas adalah pilihan topik atau situs yang ingin kita baca. Kita tinggal menggeser-geser saja untuk melihat topik atau situs yang ada.

 Tampilan Navigasi Berbentuk Kipas

Pilihan Topik dan Situs Beragam

Dengan Kurio, kita bisa memilih dari beragam situs dan topik yang tersedia. Sumbernya tidak hanya dari situs lokal, tetapi juga dari situs internasional.

Untuk situs berita lokal yang bisa kita temukan di Kurio contohnya:

  • Viva News
  • Berita Satu
  • Metro TV News
  • Merdeka
  • Liputan 6
  • SWA
  • Kontan
  • dan masih banyak lagi dengan topik bervariasi!
Sedangkan untuk situs berita internasional contohnya:

  • Forbes
  • CNN Money
  • Entrepreneur
  • Lifehack
  • Harvard Business Review
  • dan masih banyak lagi dengan topik bervariasi!


Variasi Pilihan Topik

Banyak Sumber Dalam Satu Tempat

Ada banyak situs yang ingin dibaca tapi tak ingin buang-buang waktu?

Kurio tahu bahwa menyaring informasi sangatlah penting. Selain menghemat waktu, juga menghindarkan kita dari "information overload" yang justru bisa membuat linglung.

Dengan aplikasi news reader ini, kita bisa membaca banyak sumber dalam satu tempat saja, tidak perlu repot ketik-ketik alamat di browser lagi.

  Situs-situs seperti Lifehack.org, Entrepreneur.com, 
dan Fortune.com dalam satu tempat

Kemudahan Kustomisasi Sumber Berita

Bila kita sudah bosan dengan satu sumber atau topik, dengan mudah kita bisa menambah atau mengurangi sumber yang ada.

Kalau sudah bosan dengan satu topik, tinggal pilih saja gambar tempat sampah, maka secara otomatis topik langsung hilang. Untuk menambah, tinggal pilih explore maka macam-macam rekomendasi sumber berita akan muncul.

Buang dan Tambah dengan Mudah

Fokus Membaca Tanpa Gangguan

Salah satu hal yang menurut saya paling bagus dalam menggunakan Kurio ini adalah tidak adanya gangguan berupa iklan ataupun komentar yang sering kali tidak penting menurut saya.

Saya pribadi selalu berusaha tidak membuang waktu saya dengan membaca komentar, bahkan saya juga follow akun twitter "Don't Read Comments" sebagai pengingat kalau komentar-komentar di Internet sering kali hanya buang-buang waktu saja. Apa lagi kalau komentar nyinyir atau negatif.

Na, dengan Kurio, membaca bisa lebih fokus tanpa gangguan.

Fokus


Tapi, kita juga bisa menuju situsnya langsung untuk melihat tampilan lengkapnya. Enaknya, kita tetap bisa kembali ke aplikasi Kurio dalam sekali klik.

Bisa Menuju Situsnya Langsung
Berbagi dengan Mudah

Kalau ada informasi bagus, buat apa disimpan sendiri?

Bagi-bagi tentu akan lebih bermanfaat. Karena itulah Kurio membantu kita untuk bisa berbagi berita melalui media sosial dengan mudah.


Kita bisa berbagi berita ke Facebook, Twitter, e-mail, Google Plus, dan lain sebagainya. Link berita yang ada juga secara otomatis akan disingkat oleh Kurio.

Berikut contoh tampilan berita yang dibagikan melalui Kurio:


Sharing berita ke Twitter


Ready for More Power?

Tunggu apa lagi, segera download Kurio app di Google Play atau di Apple Store, gratis!


https://play.google.com/store/apps/details?id=com.merahputih.kurio
https://itunes.apple.com/us/app/kurio/id734464027?mt=8





Jangan lupa juga ya, follow Kurio di Twitter dan like Facebook mereka. Selain untuk update info tentang Kurio, ada juga kuis berhadiah merchandise :-)

Meski knowledge is power, ingat juga bahwa lebih tepatnya sebenarnya knowledge is potential power yang artinya baru bisa berguna jika diaplikasikan.

Jadi, yuk download Kurio dan jadi pemenang dengan gerakan knowledge is power!


 
 
 
 
read more...

09 November 2014

Menunggu Sampai Jadi Orang Kaya...


Sebenarnya tidak perlu.
Illustrasi - Waktu


Saya ingat sebuah cerita yang awalnya entah dari mana, tapi saya sendiri pertama membaca cerita tersebut dalam buku Four Hour Work Week dari Tim Ferriss.

Ceritanya kira-kira begini...

Ada seorang pengusaha kaya dari Amerika Serikat, lulusan Harvard, yang menemukan seorang nelayan ketika berada di Meksiko.

Sang pengusaha melihat bahwa sang nelayan segera bergegas pulang setelah jumlah ikan yang dia dapat dirasa cukup.

Sang pengusaha kaya pun bertanya,

"Kenapa kamu tidak menunggu lebih lama lagi supaya mendapat ikan yang lebih banyak?"

Sang nelayan menjawab,

"Jumlah ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya."

Kemudian sang pengusaha masih bertanya,

"Lalu sisa waktu luang yang kamu miliki untuk apa?"

"Saya pulang, tidur agak larut, memancing sebentar, menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, bersenang-senang dengan teman, dan bersantai sambil bermain gitar, pak." Jawab sang nelayan.


Nelayan
Mendengar jawaban sederhana itu, sang pengusaha kaya dengan insting bisnisnya dan dari teori-teori yang dia dapat, segera memberi saran pada sang nelayan.
"Kamu seharusnya bisa mencari ikan lebih lama dan mendapat ikan lebih banyak, lalu ikannya kamu jual, lalu uangnya kamu gunakan membeli kapal yang lebih besar, lalu ikan kamu jauh lebih banyak lagi, dan kamu bisa membeli beberapa kapal lagi!

Kamu lalu bisa menjadi pengusaha ikan kalengan yang sukses, lalu pindah ke New York untuk menjalankan usaha, bukannya tinggal di kampung pinggir pantai seperti ini."

Mendengar penjelasan dari sang pengusaha, sang nelayan pun bertanya,

"Tapi butuh waktu berapa lama pak, untuk mencapai itu semua?"

"Kira-kira 15 sampai 20 tahun. Tapi, ketika nanti saatnya tepat, perusahaan kamu bisa melakukan IPO, menjual saham ke publik, dan kamu bisa jadi milyarder!"

"Lalu setelah itu apa, pak?" Tanya sang nelayan lagi.

"Lalu kamu bisa pindah di dekat pantai, tidur agak larut, memancing sebentar, menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, bersenang-senang dengan teman, dan bersantai sambil bermain gitar." Jawab sang pengusaha.


~~00~~00~~
 
Cukup menohok kan, ceritanya? 


Ada juga cerita yang baru saya lihat di YouTube dari Dompet Dhuafa, judulnya "Motivator Jalanan" yang menampilkan motivator Jay Teroris yang mencoba mengubah kehidupan orang-orang yang dia temui di jalan.

Di dalam sebuah episode, Jay menjumpai seorang pria pengemis yang katanya ingin berhenti meminta-minta kalau sudah punya modal. Ketika ditanya butuh modal berapa, sang pengemis menjawab butuh Rp 5 juta rupiah.

Ketika ditanya butuh waktu berapa lama untuk mendapat uang Rp 5 juta dari hasil mengemis, sang pengemis sadar bahwa waktunya akan sangat lama.

Lalu, Jay memberi saran bahwa sebenarnya pengemis tadi tidak perlu menunggu sampai punya Rp 5 juta, tapi cukup dengan Rp 300 ribu saja. Dia menyarankan agar sang pengemis membeli ayam, lalu dipelihara untuk diternakkan sendiri, tanpa perlu kandang yang besar.

Jay lalu memberi modal Rp 300 ribu kepada sang pengemis, dan dia mengatakan pada sang pengemis bahwa satu tahun kemudian dia akan mengunjunginya lagi untuk melihat apa yang terjadi.

Satu tahun pun berlalu.

Ternyata, pria tadi sudah tidak menjadi pengemis lagi karena ayam-ayamnya sudah bertambah banyak. Meski belum menjadi pengusaha sukses, dia sudah memiliki kandang yang besar untuk menampung ternak-ternaknya, dan yang penting sudah tidak lagi meminta-minta di jalanan.

Tak perlu Rp 5 juta, cukup Rp 300 ribu.

Selain itu banyak juga contoh-contoh lain yang bisa kita lihat, salah satunya cerita tentang seorang supir bus di Bima yang berani mendirikan madrasah gratis karena kepeduliannya kepada pendidikan di tempat tinggalnya, meskipun hanya seadanya.

Ada juga cerita yang cukup fenomenal beberapa waktu lalu, yaitu seorang pemulung yang menabung agar bisa membeli kambing untuk berkurban. Dia tidak menunggu sampai statusnya sebagai pemulung hilang supaya bisa berkurban.

Bahkan sebaliknya, dia berkurban lalu statusnya sebagai pemulung hilang, karena kabarnya saat ini telah berhasil memenuhi kebutuhannya dengan bertani.

Orang-orang seperti itu tidak mau menunggu sampai jadi orang kaya untuk bisa melakukan sesuatu.

Padahal saya sendiri berpikir,

Nanti kalau sudah punya banyak uang baru mau begini, mau begitu, bikin ini, bikin itu...

Padahal, the time is now.

In this moment.

Right here.

Right now.




"Jika Anda tidak mampu memberi makan 1.000 orang, cukup beri makan satu orang saja." - Bunda Theresa



---
Foto:
By Paul Lowry (Flickr: A Fisherman mending his Net) [CC-BY-2.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/2.0)], via Wikimedia Commons


read more...

05 November 2014

Apakah Anda Melihat Apa yang Saya Lihat?


Pernah lihat meme seperti ini?

Gini salah, gitu juga salah.

 

Bagaimana kalau meme yang ini?



Ilmu cocokologi.
You'll see it when you believe it.



Atau ini nih...


Konspirasi Wahyudi!!!





Ya.

Semua itu terjadi, karena...



Masalah sudut pandang.


Sekali lagi, you'll see it when you believe it.


Kita ini seperti proyektor berjalan, dan setiap orang punya proyektornya masing-masing. Apa yang kita lihat adalah proyeksi dari apa yang ada di dalam pikiran, bukan sebaliknya.



"Ubahlah cara Anda melihat sesuatu, maka apa yang Anda lihat akan berubah." - Wayne Dyer








read more...

31 Oktober 2014

Curhatan Alay


Saya cuma mau posting ini:

Aposeh.....






Horee, tweet saya di-fav seleb!



Well, sudah itu saja curhatan alay dari saya.

Apakah life-changing?

Tidak.

Tapi bahkan Neil Pasricha memposting merdunya suara telor ceplok di penggorengan.












read more...

05 September 2014

Bisakah Ini Disebut Keajaiban?

"Ada dua cara menjalani kehidupan. Pertama seakan tak ada keajaiban sama sekali. Kedua seakan semuanya adalah keajaiban."


Seperti yang pernah saya ungkap sebelumnya, saya percaya bahwa keajaiban atau mukjizat itu bukan hanya hal-hal seperti lolos dari kecelakaan maut, sembuh dari penyakit parah, menang undian milyaran, dan hal-hal serupa lainnya.

Saya percaya bahwa hal-hal kecilpun merupakan keajaiban.

Dua minggu terakhir ini saya merasa mengalami beberapa keajaiban. Tapi mungkin bagi banyak orang ini bukan keajaiban, hanya hal biasa saja.

Tak mengapa.

Memangnya seberapa “ajaib” sih?

Yang pertama, sekitar dua minggu lalu saya memutuskan untuk berbelanja online di Bhinneka.com, untuk mengganti notebook saya yang sudah “sekarat”. Karena nama besarnya, saya sudah tidak ragu lagi berbelanja di Bhinneka meskipun waktu itu kali pertama saya.

Setelah menemukan produk yang tepat, hari Sabtu saya langsung transfer ke Bhinneka. Setelah itu mulai muncul rasa khawatir karena saya membaca review-review yang ada di Internet.

Seperti biasa, orang cenderung menulis review paling bagus kalau ada komplain. Dengan penuh emosi dari hati yang terdalam, menulis review negatif yang panjang memang sangat mudah.

Kalau bagus, biasanya orang justru tidak menulis review, kecuali ada hadiahnya :-)

Dengan adanya banyak review negatif seperti di Kaskus, Facebook, atau blog-blog pribadi tentang belanja di Bhinneka.com, saya sudah siap akan kemungkinan yang terjadi. Kebanyakan komplain memang karena pengiriman memakan waktu lama, bahkan ada yang sampai satu bulan lebih.

Tapi karena keperluan saya tidak mepet, jadi saya sudah siap jika barang yang dipesan memakan waktu lama, atau bahkan tidak dikirim dan akhirnya harus meminta refund.

Memang ada sebagian pembeli yang memutuskan untuk refund, karena menunggu itu pada umumnya melelahkan. Apa lagi kalau sampai satu bulan untuk belanja di dalam negeri.

Nah, waktu itu setelah hari Sabtu saya memesan, tiga hari kemudian pihak Bhinneka menghubungi saya.

Apa yang terjadi?

Seperti yang sudah saya duga, mereka mengabarkan bila terjadi keterlambatan pengiriman unit notebook. Mereka mengabarkan bahwa unit baru akan bisa dikirim minggu depan.

Karena saya sudah mengharapkan hal seperti ini, ya saya tidak kaget. Tidak ada rasa kecewa dan saya memutuskan untuk tidak mengeluarkan umpatan-umpatan seperti yang saya baca di beberapa review negatif. Sebenarnya bisa saja meminta refund jika barang belum dikirim, tapi saya putuskan untuk menunggu satu minggu lagi.

Saya anggap saja belanja di Bhinneka seperti sedang belanja di Amazon.com atau eBay.com yang harus menunggu berminggu-minggu karena memang dari luar negeri.

Tapi tentu, saya berharap bisa dikirim lebih cepat, kalau bisa saat itu juga atau esok harinya sudah dikirim. Jadi, ya saya berdoa saja, siapa tahu tidak jadi terlambat. Who knows?

Dan ternyata benar, doa saja dijawab. Esoknya, hari Rabu malam, saya mendapat e-mail bahwa unit sudah dikirim melalui JNE, dan hari Jumat sudah sampai di rumah dengan selamat.

Notebook dari Bhinneka.com

Saya sudah siap menunggu satu minggu, eh ternyata esok hari sudah dikirimkan.

Keajaiban pertama bagi saya :-)

Nggak ajaib ya? Ya sudah deh, nggak apa-apa. Yang pasti itu perasaan saya :-)

Lalu yang kedua, saya sedang mencari-cari kupon atau diskon untuk membeli audiobook di Audible.com, dan kalau bisa dapat gratisan...hehehe. Setelah browsing sana, browsing sini, saya akhirnya tidak bisa menemukan yang gratis, hanya bisa mendapat potongan harga saja.

Tapi karena deal-nya cukup bagus, kira-kira hanya perlu $5 untuk satu kredit yang biasanya $14.95, saya putuskan untuk mengambilnya. Jadilah saya download satu audiobook.

Saya pun mendengarkan audiobook tersebut sampai habis selama beberapa hari, dan kadang saya ulang-ulang. Tapi karena belum puas, saya masih ingin mendownload audiobook baru lagi karena ada satu judul yang muncul di kepala.

Karena kemarin-kemarin sudah mencari dan tidak ada lagi kupon atau gratisan (dan saya tidak punya uang...hehe) ya sudah saya lupakan saja. Nanti saja lagi, siapa tahu ada rezeki.

Beberapa hari lalu, tiba-tiba ada komentar masuk di salah satu blog saya yang berbahasa Inggris. Saya kira hanya spam seperti biasanya, ternyata bukan. Saya memang mengira itu spam karena hampir tidak pernah ada komentar di blog saya itu, dan kalaupun ada isinya spam.

Tapi di artikel yang saya tulis tahun 2013 lalu tersebut, sang komentator hanya ingin memberi tahu, kalau sekarang ada Audible.com.au dan Audible.fr di mana saya bisa mendapatkan free trial untuk kedua situs tersebut.

Wah!

Pas sekali, kebetulan sedang ingin download audiobook baru, eh ada yang kasih tahu kalau ada dua situs Audible luar negeri. Sebelumnya saya sudah memanfaatkan free trial di beberapa situs Audible untuk mendapatkan gratisan, dan dari komentar tersebut saya baru tahu kalau ada dua lagi yang baru.

Langsung saja, saya sedot audibook yang saya inginkan dan sekarang sudah ada di hard drive saya.

Keajaiban kedua bagi saya :-)

Lagi-lagi nggak ajaib ya? Ya udah deh, hehehe.

Yang ketiga, saya mengalami penyakit yang alhamdulillah sudah lama tidak kambuh. Penyakit yang biasanya dialami kaum hawa ini paling parah menyerang saat saya SMP.

Maksudnya, penyakit “iri” akan “kesempurnaan” fisik seseorang, bukan yang lain :-D

Waktu SMP dulu saya sampai meniru gaya rambut teman saya yang cukup populer di sekolah karena penampilan fisiknya, meski akhirnya tidak mirip sama sekali. Sampai-sampai tulisan tangannya pun saya tiru. Tapi akhirnya saya tobat dan jadi diri sendiri..hehehe :-)

Sebagai orang Indonesia, ya saya seperti rata-rata orang. Kulit sawo matang, hidung pesek, tinggi badan biasa saja, di tambah lagi badan saya bisa dibilang berisi meski syukur alhamdulillah saya tidak obesitas :-D

Bagi saya sih, yang penting jaga kesehatan. Kalau yang lain sudah dari sononya begitu.

Ternyata penyakit iri ini kambuh lagi setelah saya melihat seorang penyanyi bule, lebih tepatnya vokalis, di sebuah DVD (original lho, masa'bajakan..hehe) yang baru saya beli.

Dalam hati saya,

“Wah, masya Allah, ini orang kok cantik banget ya. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, matanya biru, rambutnya merah, badannya langsing, suaranya baguuuuuus, lagi..”

Wah, mulai deh.

Saya lalu mulai membandingkan diri saya dengan sang vokalis itu.

Saya kemudian mencoba untuk menghilangkan lagi segala pikiran saya yang merasa diri tidak cantik, tapi agak susah memang. Padahal sebelum-sebelumnya saya sudah tidak peduli, mau kulitnya putih kek, hidung mancung kek, itu kan bule.

Iklan-iklan pemutih di televisi dan berita operasi plastik juga hanya membuat saya berpikir,

Halah...”

Tapi ketika penyakit itu muncul lagi, saya harus bertindak cepat. Lagi pula iri itu kan termasuk kufur nikmat kan ya? Dosa kan ya?

Kemudian pas saya cek timeline Twitter sang artis bule tadi, jreeeengg...

Ternyata muncul sebuah tweet yang artinya kira-kira begini.

“Benar-benar cantik, luar dan dalam! @Lupita_Nyongo ...”

Lha, kok pas banget?

Di tweet tersebut dicantumkan sebuah video YouTube:



Video yang menurut saya inspiratif. Lupita Nyong'o yang merupakan pemenang Oscar ini di mata rata-rata manusia yang indranya terbatas tidak memenuhi standar kecantikan dunia pastinya.

Tapi Lupita berpesan, kalau kecantikan sejati itu tidak bisa dibuat-buat dan dipermak dari luar, tapi harus muncul dari perilaku.

“Beauty was not a thing that I could acquire or consume, it was something that I just had to be.”

Sama seperti kebahagiaan sejati. Tidak bisa didapatkan dari hal-hal material, tetapi dari dalam diri.

Sebab apa yang “sejati” tidak akan pernah hilang, sementara kecantikan fisik bisa hilang, dan uang banyak juga bisa hilang.

Well, ternyata Tuhan langsung memberi saya “obat penawar”-nya. Saya langsung diingatkan, kira-kira begini...

“Eh, itu lho, orang yang kamu iri penampilan fisiknya ternyata berpikir begitu..”

Keajaiban lagi bagi saya :-)

Mungkin hal-hal demikian bukan keajaiban, tapi saya memutuskan untuk mengharapkan keajaiban dan melihatnya sebagai keajaiban, karena hanya dengan demikian saya dapat melihat lebih banyak keajaiban-keajaiban berikutnya.

Miracles do come in small packages!

read more...