Latest Posts

08 Agustus 2015

Kala Gus Mus Pergi Ke Jerman...

UniHHHauptgebaeude
Ilustrasi - Gedung Utama University of Hamburg

K.H. Mustofa Bisri atau Gus Mus menceritakan pengalamannya saat diundang ke Jerman. Pelajaran dan motivasi apa yang bisa kita ambil dari cerita ini?

Berikut cerita dari Gus Mus yang merupakan bagian dari ceramahnya di sini:


Catatan: bagian dalam kurung "( )" adalah tambahan dari saya.


….


Saya sudah pernah ke Eropa.

Dan ini suatu takdir semata-mata, karena kalau dibayangkan saya itu hanya mondok thok (saja). Betul-betul santri kendhilen. Saya nyantri itu di Lirboyo, yang pada waktu itu masih sangat, sangat kolot.

Baca koran saja ndak boleh, baca majalah ndak boleh, ndelok bal-balan (lihat sepak bola) gak oleh (tidak boleh). Celananan (pakai celana) ndak boleh. Sekarang Gus Idris dasinan barang (pakai dasi juga).

Saya ndak pernah sekolah formal. Saya hanya di pondok Lirboyo, pondok Krapyak, dan pondoknya ayah saya sendiri. Sudah ndak pernah sekolah, betul-betul santri kendhilen.
Kok saya tiba-tiba diundang ke Jerman?

Mungkin orang sana yang gila.

Saya di sana itu hanya disuruh baca syair. Itu kan gila.

Jauh-jauh diongkosi, kok dikon moco (disuruh baca) syair. Ya saya meskipun ndak ngerti cara Jerman ya mau, baca syair gitu aja bisa lihat Eropa.

Ketika saya mau berangkat ke Eropa, saya itu gundah sekali. Pikiran saya gundah.

Pada waktu itu Romadhon, puasa-puasa kok mau pergi ke negaranya orang kafir ini gimana...

Nanti sembahyang saya bagaimana, puasa saya bagaimana.

Tahu-tahu begitu saya turun di Frankfurt, kemudian saya dijemput menuju ke Hamburg – saya diundang di Universitas Hamburg – di sana ada pusat studi bahasa Asia Pasifik dan bahasa Indonesia.

Saya melihat tercengang sekali.

Negara yang saya bayangkan negara kafir, itu ternyata ajaran Rasulullah saw berjalan dengan tertib di sana. Bersih!

Jalan bersih seperti dipel terus setiap hari.

Jalan, sampah ndak ada. Bersih sekali.

Padahal ndak ada tulisan satupun anna dzofatul minal iimaan, ndak ada. Di sini itu, setiap pasar ada tulisan anna dzofatul minal iimaan, masih diterjemahkan bahasa Indonesia bahwa kebersihan itu adalah bagian dari iman. Itu sampahnya, masya Allah, kayak gunung.

Disiplinnya.

Padahal mereka nggak shalat.

Kalau orang Islam disiplin sudah pantes karena dia disiplin diajari mulai 7 tahun sudah shalat. Tet...subuh shalat subuh....tet, dzuhur shalat dzuhur....tet, ashar sholat ashar.

Mereka itu disiplinnya luar biasa.

Jam setengah 12 malam, sepi jalan perempatan itu. Saya mau nyabrang itu tidak ada mobil lewat. Saya mau nyebrang itu, saya lihat kok banyak orang di sini pada berdiri ndak nyebrang.

Kenapa orang-orang ndak pada nyebrang?

Ternyata di sana ada gambar orang berdiri merah, artinya orang nyebrang ndak boleh. Nanti kalau sudah hijau, baru boleh. Tapi pikir saya, lha wong sepinya kayak gini kok. Saya sudah ingin mlayu (lari) saja.

Nggak sabar...dingin waktu itu. Dinginnya begini kok berdiri di trotoar nggak nyabrang-nyabrang hanya nunggu hijaunya gambar orang di sana.

Saya sudah mau lari saja, karena kebiasaan di Indonesia kan ndak urusan. Ada mobil banyak saja nyabrang apa lagi ndak ada mobil.

Tapi saya malu.

Malu tidak pada orang, tapi pada anjingnya orang kafir. Ada anjing itu begini saja, juga nggak mau jalan. Begitu hijau, anjingnya lari.

Saya mikir masak saya kalah sama anjingnya orang kafir?

(jama'ah tertawa)

Bagaimana amanahnya, kalau mengatakan jam 7, mereka jam 7.

Ketika saya dari Jerman mau ke Perancis, PJKA-nya sana sudah janji jam 6 persis. Saya datang ke stasiun jam 6 satu menit, kepancal saya (ketinggalan). Kereta sudah jalan....hanya satu menit.

Kalau di sini, sudah diumumkan di loudspeaker, “para penumpang harap lekas naik, kereta akan segera berangkat, para pengantar harap lekas turun”, itu buuunyii terus sampai satu jam nggak jalan-jalan keretanya.

Penghormatannya terhadap hukum, jangankan nabrak orang. Nabrak pohon saja orang kena tilang. Dia harus mengganti, keparahan pohon ini tertabrak mobil sampai seberapa.

Penghargaan terhadap manusia, luar biasa. Sopan santunnya.

Saya di Frankfurt itu saya anggap di sini saja. Begitu turun, saya naik pesawat sekian lamanya kecuten karena di pesawat ndak boleh merokok. Turun langsung saya ngerokok.

Petugas datang itu dengan sopan sekali.

“Maaf, Anda merokok ya? Mari saya antarkan ke tempat merokok.”

Saya terus diajak, (tempat) kayak toples gitu, sendirian ngerokok.

Saya lalu berpikir, ini nanti yang masuk surga itu siapa?

(jama'ah tertawa)

Apa yang shalat terus, tapi tidak mengikuti ajaran Rasulullah, atau yang melakukan ajaran Rasulullah tetapi tidak shalat seperti mereka ini.

Ini akibat “diiris-irisnya”: ini agama, ini tidak...

Akhirnya kita anggap urusan disiplin, urusan ndonyo (dunia). Urusan kebersihan, karena ndak ada nahwu shorof-nya (tata bahasa Arab), ndonyo.

Soal penghargaan kepada manusia, urusan ndonyo. Soal kebangsaan, ndonyo.


(Catatan pribadi: shalat tetap wajib bagi yang muslim lho ya...) 


...


Untuk ceramah lengkapnya, silakan dilihat di YouTube :-)



read more...

07 Juli 2015

Belbuk - Beli Buku Online Tinggal Klik, Bisa Pakai Paypal


Toko Buku Online

Bagi Anda yang suka baca buku, saya punya rekomendasi salah satu toko buku online terpercaya yang baru saja saya coba: Belbuk.com

Akhir-akhir ini memang saya cukup sering membeli buku, dan saya sudah mencoba beberapa toko buku online yang berbeda. Semuanya memuaskan, tapi baru kali ini saya belanja buku pakai PayPal, dan prosesnya lancar :-)

Selain itu, sebelumnya saya pernah membeli buku dari toko buku online lain, tapi sudah ditunggu seminggu ternyata buku-buku yang saya minta masih diusahakan ke penerbit, jadi terpaksa saya ganti dengan buku yang lain. Tapi, Sabtu lalu saya coba pesan salah satu buku yang sama di Belbuk.com, dan ternyata langsung dikirim.

Hari Jumat pesan, Selasa berikutnya sampai

Toko buku online Belbuk.com ini sendiri menyediakan berbagai buku dalam bermacam-macam kategori, jadi apapun tujuan Anda membeli buku, apakah itu untuk mencari referensi, memuaskan hobi membaca, koleksi buku komik, dan lain sebagainya, saya rekomendasikan untuk belanja di Belbuk.com.

Prosesnya mudah sekali, tinggal cari buku di kotak pencarian atau jelajahi buku berdasarkan kategori, dan jika sudah tinggal masukkan ke keranjang belanja. Nah, setelah itu tinggal pilih opsi jasa kurir (bisa memilih JNE atau TIKI), bayar (transfer bank atau PayPal), dan tinggal tunggu buku sampai di rumah :-)


Yang saya suka dari Belbuk ini, bayarnya bisa pakai PayPal, jadi kalau Anda punya kartu Payoneer yang terhubung dengan PayPal juga bisa dipakai belanja.

Oh ya, untuk pembayaran dengan PayPal, ketika pembayaran sukses, status di Belbuk.com akan menunjukkan ditangguhkan terlebih dahulu, karena akan ditinjau oleh tim Belbuk untuk menghindari fraud atau penipuan. Tapi dari pengalaman saya, di hari yang sama status sudah langsung berganti menjadi pembayaran diterima. 

Tinggal dibaca :-)

 Jadi, bagi Anda yang ingin belanja buku di Internet, saya rekomendasikan Belbuk.com, terutama bila Anda ingin belanja dengan PayPal atau Payoneer.

Memang benar seperti mottonya, cukup di klik buku tiba di rumah. Belanja sambil tiduran juga bisa :-)






read more...

30 Mei 2015

Tony Robbins - Kaya Dahulu Baru Bebas Finansial


Sebelumnya saya pernah membuat posting yang judulnya Menunggu Sampai Jadi Orang Kaya. Tapi di zaman serba cepat ini, orang yang hanya membaca judulnya saja langsung gatal berkomentar sinis (yang akhirnya saya moderasi komentarnya).

Nah, berikut adalah video seminar bebas finansial (terjemahan bahasa Indonesia) dari Tony Robbins, yang di dalamnya memuat hal yang serupa namun dengan penyampaian yang jauh lebih baik:




"Jika Anda tak menunggu, jika Anda sadar Anda sudah kaya, saya yakin Anda bisa mencapai level kekayaan finansial 10 x lebih cepat daripada ketika Anda memikirkan keterbatasan." - Tony Robbins


"...berapapun uang yang Anda kumpulkan tak akan bisa membuat Anda kaya." Tony Robbins





read more...

09 April 2015

Jim Rohn - Jika Kita Berubah, Hal Lain Akan Berubah untuk Kita



"...tak perlu berbuat apa-apa untuk kondisi ekonomi. Anda hanya perlu bekerja...untuk memperbaiki diri. Membuat diri Anda menjadi lebih bernilai."

"Inilah apa yang mentor saya katakan, salah satu saran terbaik yang pernah saya dapat...Dia berkata, 'Mr. Rohn, jika Anda akan berubah, maka hal lainnya akan berubah untuk Anda."








read more...

22 Januari 2015

Tak Ada yang Berubah, Tapi Berubah Juga

Ilustrasi


Ketika membaca buku "Islam, Risalah Cinta dan Kebahagiaan" tulisan Pak Haidar Bagir, ada satu cerita (yang kemudian saya ketahui berasal dari buku "Man's Search for Meaning") yang mengingatkan saya sekali lagi tentang pentingnya sudut pandang.

Dikisahkan ada seorang pria tua datang untuk bertemu Dr. Viktor Frankl, seorang psikolog ternama, dan pria itu kelihatan dalam keadaan bersedih dan depresi.

Kepada Dr. Frankl pria tersebut memaparkan apa yang menjadi masalahnya selama ini: ia baru saja ditinggal oleh istrinya untuk selama-lamanya.

Pria itu merasa sangat sedih dan tertekan, karena istri yang begitu dicintainya dan telah hidup bersamanya selama ini telah lebih dahulu meninggal dunia, sehingga tidak ada lagi teman yang selalu ada untuk saling berbagi. Perasaan pria tua itu sangatlah hancur, serasa hidup sudah tidak ada maknanya lagi.

Setelah ia bercerita kepada Dr. Frankl, sang psikolog pun bertanya,

"Bagaimana jika justru Anda yang meninggal dunia terlebih dahulu, dan istri Anda harus hidup tanpa Anda?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pria tadi menjawab,

"Jika itu terjadi, maka pastilah dia akan merasa sedih dan menderita."

Mendengar jawaban sang pria, Dr. Frankl menyambung,

“Kalau begitu, berarti istri Anda telah terhindar dari penderitaan; dan Andalah yang menyelamatkannya dari penderitaan. Tapi sekarang Anda harus membayarnya dengan hidup tanpanya.”

Pria tadi tidak mengatakan apa-apa, tapi ia menyalami Dr. Frankl dan pergi dengan lebih tenang dari sebelumnya.

Secara eksternal tidak ada yang berubah. Istrinya tidak akan kembali lagi, tapi pria tadi telah menemukan makna baru dengan mengubah sudut pandangnya.




Foto:

By Hackfish (Own work) 
[CC BY-SA 2.5, GFDL, CC BY-SA 2.5, GFDL or CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons






read more...

22 November 2014

Knowledge Is Power - Kurio App Review

DerekHummer
Ilustrasi - Power


 Jangan pernah menonton berita mainstream di TV.

Itulah salah satu kiat sukses dari penulis ternama, Joe Vitale.

Saya adalah salah satu penggemar karya-karya Joe, dan kiat tersebut sangat masuk akal. Mengapa menghindari berita mainstream justru bisa membantu?

Karena sebagian besar isinya negatif.

Dan hal-hal negatif tersebut diulang-ulang sampai saya bosan.

Memang banyak juga berita-berita inspiratif dan bermanfaat, dan itulah perlunya menyaring dan membatasi informasi, terutama di era informasi seperti sekarang ini.

Contohnya, tanpa adanya berita, saya tidak akan mengetahui informasi tentang adanya sebuah lomba blog yang diadakan oleh Dirjen SDA PU baru-baru ini. Ketika saya mencari-cari update, di Twitter saya mendapatkan informasi dari Metro TV News tentang adanya lomba tersebut.

Berita tentang Lomba Blog di MetroTVNews.com

Lomba tersebut ternyata sangat sedikit yang mengetahui, dan bisa saya bilang merupakan salah satu lomba termudah yang pernah saya ikuti karena pesaingnya sedikit sekali. Alhasil, saya berhasil menjadi salah satu pemenang.

Itulah salah satu bukti bahwa knowledge is power. Knowledge alias pengetahuan atau informasi adalah kekuatan. Pastinya ada banyak orang yang lebih baik dari saya yang bisa mengikuti lomba tersebut dan menjadi pemenangnya, tapi karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang adanya lomba tersebut, maka mereka tidak mendapatkan apa-apa.

Contoh lainnya lagi, dari situs-situs berita saya tahu ada yang namanya kompetisi memegang mobil di Singapura. Hadiahnya besar sekali, meskipun "hanya" perlu ketahanan memegang mobil.

Siapa saja bisa memegang mobil, tapi yang tidak memiliki knowledge bahwa ada lomba seperti itu, ya tidak bisa dapat keuntungan.

Atau mungkin contoh yang lain lagi, Robert Kiyosaki sampai mengatakan bahwa knowledge adalah uang. Iya, uang!



 Knowledge is the new money"


Begitu tepatnya.

Maksudnya?

Maksudnya begini, apakah Anda setuju dengan pendapat bahwa kita harus punya uang dahulu untuk bisa menghasilkan uang? Misalnya jika ingin mulai berbisnis, karena tidak ada uang maka Anda tidak bisa berbisnis?

Tentu tidak.

Kita tidak perlu uang untuk bisa mendapatkan uang. Kita hanya perlu memiliki ide atau knowledge alias pengetahuan yang tepat untuk mendapatkannya.

Saya juga pernah menulis dalam artikel sebelumnya bahwa Robert Kiyosaki mengatakan bahwa pengetahuan yang tepat seperti tren harga emas misalnya, juga bisa sangat menentukan apakah kita akan mendapatkan atau justru kehilangan uang.

Contoh lainnya yang muncul di kepala saya adalah ketika masa kampanye calon presiden lalu.

Seperti yang diberitakan MetroTVNews.com, Pak Jokowi yang waktu itu masih menjadi capres dan mengunjungi pengungsi Sinabung pernah mengatakan akan membantu korban-korban di sana. Saat itu, dia mengatakan akan memprioritaskan biaya pendidikan bagi 83 pengungsi Sinabung yang diterima masuk ke Universitas negeri di sana.

Pak Jokowi mengatakan, 

"Kalau masalah uang saya enggak punya, tapi saya bisa mencarikan yang 83 (mahasiswa korban erupsi Sinabung) itu saya bisa menyelesaikan,"

Ya, mungkin uang tidak punya, tapi dia yakin sekali karena punya knowledge bagaimana supaya bisa mendapatkan uang tersebut.

Kalau yang tidak tahu, pasti sudah menyerah.

"Ah, saya pingin banget bantu, tapi nggak punya uang..."

Itulah beberapa contoh knowledge is power menurut saya.

Karena itu, saya suka membaca-baca informasi melalui smartphone saya. Untuk bisa menyaring informasi, saya baru-baru ini mencoba aplikasi lokal baru bernama Kurio.

Dengan Kurio, saya bisa melewatkan berita-berita negatif dan hanya fokus kepada topik yang saya ikuti saja.

Berikut ulasan singkat saya tentang Kurio.

Kurio - Smart News Reader

Apa itu Kurio?

Kurio merupakan aplikasi smartphone untuk membaca berita.

Apa yang membuat saya pribadi berminat menggunakan aplikasi ini adalah, selain karena buatan developer lokal, tampilan atau desainnya begitu unik dan menarik, dan tentunya gratis! Dengan begitu, tentunya aktivitas membaca menjadi lebih "hidup".

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dengan Kurio kita bisa memuaskan rasa keingintahuan kita dengan mengumpulkan topik-topik yang kita minati, baik dari sumber lokal maupun internasional.



Mengapa Kurio, bukan yang lain?

Ringan



Kurio app hanya berukuran 4.7 M menurut informasi di Google Play, jadi tidak memakan banyak memori di smartphone. Meskipun ringan, tapi aplikasi ini mampu berfungsi secara maksimal.

Ini terbukti dengan banyaknya review positif yang ditinggalkan oleh penggunanya, termasuk saya :-)



Navigasi Unik dan Menarik

Unsur estetika sangatlah membantu dan membuat aktivitas membaca menjadi semakin mengasyikkan. Kurio memiliki desain navigasi unik berupa kipas warna-warni sehingga tidak nampak membosankan.

Di setiap ruas kipas adalah pilihan topik atau situs yang ingin kita baca. Kita tinggal menggeser-geser saja untuk melihat topik atau situs yang ada.

 Tampilan Navigasi Berbentuk Kipas

Pilihan Topik dan Situs Beragam

Dengan Kurio, kita bisa memilih dari beragam situs dan topik yang tersedia. Sumbernya tidak hanya dari situs lokal, tetapi juga dari situs internasional.

Untuk situs berita lokal yang bisa kita temukan di Kurio contohnya:

  • Viva News
  • Berita Satu
  • Metro TV News
  • Merdeka
  • Liputan 6
  • SWA
  • Kontan
  • dan masih banyak lagi dengan topik bervariasi!
Sedangkan untuk situs berita internasional contohnya:

  • Forbes
  • CNN Money
  • Entrepreneur
  • Lifehack
  • Harvard Business Review
  • dan masih banyak lagi dengan topik bervariasi!


Variasi Pilihan Topik

Banyak Sumber Dalam Satu Tempat

Ada banyak situs yang ingin dibaca tapi tak ingin buang-buang waktu?

Kurio tahu bahwa menyaring informasi sangatlah penting. Selain menghemat waktu, juga menghindarkan kita dari "information overload" yang justru bisa membuat linglung.

Dengan aplikasi news reader ini, kita bisa membaca banyak sumber dalam satu tempat saja, tidak perlu repot ketik-ketik alamat di browser lagi.

  Situs-situs seperti Lifehack.org, Entrepreneur.com, 
dan Fortune.com dalam satu tempat

Kemudahan Kustomisasi Sumber Berita

Bila kita sudah bosan dengan satu sumber atau topik, dengan mudah kita bisa menambah atau mengurangi sumber yang ada.

Kalau sudah bosan dengan satu topik, tinggal pilih saja gambar tempat sampah, maka secara otomatis topik langsung hilang. Untuk menambah, tinggal pilih explore maka macam-macam rekomendasi sumber berita akan muncul.

Buang dan Tambah dengan Mudah

Fokus Membaca Tanpa Gangguan

Salah satu hal yang menurut saya paling bagus dalam menggunakan Kurio ini adalah tidak adanya gangguan berupa iklan ataupun komentar yang sering kali tidak penting menurut saya.

Saya pribadi selalu berusaha tidak membuang waktu saya dengan membaca komentar, bahkan saya juga follow akun twitter "Don't Read Comments" sebagai pengingat kalau komentar-komentar di Internet sering kali hanya buang-buang waktu saja. Apa lagi kalau komentar nyinyir atau negatif.

Na, dengan Kurio, membaca bisa lebih fokus tanpa gangguan.

Fokus


Tapi, kita juga bisa menuju situsnya langsung untuk melihat tampilan lengkapnya. Enaknya, kita tetap bisa kembali ke aplikasi Kurio dalam sekali klik.

Bisa Menuju Situsnya Langsung
Berbagi dengan Mudah

Kalau ada informasi bagus, buat apa disimpan sendiri?

Bagi-bagi tentu akan lebih bermanfaat. Karena itulah Kurio membantu kita untuk bisa berbagi berita melalui media sosial dengan mudah.


Kita bisa berbagi berita ke Facebook, Twitter, e-mail, Google Plus, dan lain sebagainya. Link berita yang ada juga secara otomatis akan disingkat oleh Kurio.

Berikut contoh tampilan berita yang dibagikan melalui Kurio:


Sharing berita ke Twitter


Ready for More Power?

Tunggu apa lagi, segera download Kurio app di Google Play atau di Apple Store, gratis!


https://play.google.com/store/apps/details?id=com.merahputih.kurio
https://itunes.apple.com/us/app/kurio/id734464027?mt=8





Jangan lupa juga ya, follow Kurio di Twitter dan like Facebook mereka. Selain untuk update info tentang Kurio, ada juga kuis berhadiah merchandise :-)

Meski knowledge is power, ingat juga bahwa lebih tepatnya sebenarnya knowledge is potential power yang artinya baru bisa berguna jika diaplikasikan.

Jadi, yuk download Kurio dan jadi pemenang dengan gerakan knowledge is power!


 
 
 
 
read more...

09 November 2014

Menunggu Sampai Jadi Orang Kaya...


Sebenarnya tidak perlu.
Illustrasi - Waktu


Saya ingat sebuah cerita yang awalnya entah dari mana, tapi saya sendiri pertama membaca cerita tersebut dalam buku Four Hour Work Week dari Tim Ferriss.

Ceritanya kira-kira begini...

Ada seorang pengusaha kaya dari Amerika Serikat, lulusan Harvard, yang menemukan seorang nelayan ketika berada di Meksiko.

Sang pengusaha melihat bahwa sang nelayan segera bergegas pulang setelah jumlah ikan yang dia dapat dirasa cukup.

Sang pengusaha kaya pun bertanya,

"Kenapa kamu tidak menunggu lebih lama lagi supaya mendapat ikan yang lebih banyak?"

Sang nelayan menjawab,

"Jumlah ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya."

Kemudian sang pengusaha masih bertanya,

"Lalu sisa waktu luang yang kamu miliki untuk apa?"

"Saya pulang, tidur agak larut, memancing sebentar, menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, bersenang-senang dengan teman, dan bersantai sambil bermain gitar, pak." Jawab sang nelayan.


Nelayan
Mendengar jawaban sederhana itu, sang pengusaha kaya dengan insting bisnisnya dan dari teori-teori yang dia dapat, segera memberi saran pada sang nelayan.
"Kamu seharusnya bisa mencari ikan lebih lama dan mendapat ikan lebih banyak, lalu ikannya kamu jual, lalu uangnya kamu gunakan membeli kapal yang lebih besar, lalu ikan kamu jauh lebih banyak lagi, dan kamu bisa membeli beberapa kapal lagi!

Kamu lalu bisa menjadi pengusaha ikan kalengan yang sukses, lalu pindah ke New York untuk menjalankan usaha, bukannya tinggal di kampung pinggir pantai seperti ini."

Mendengar penjelasan dari sang pengusaha, sang nelayan pun bertanya,

"Tapi butuh waktu berapa lama pak, untuk mencapai itu semua?"

"Kira-kira 15 sampai 20 tahun. Tapi, ketika nanti saatnya tepat, perusahaan kamu bisa melakukan IPO, menjual saham ke publik, dan kamu bisa jadi milyarder!"

"Lalu setelah itu apa, pak?" Tanya sang nelayan lagi.

"Lalu kamu bisa pindah di dekat pantai, tidur agak larut, memancing sebentar, menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, bersenang-senang dengan teman, dan bersantai sambil bermain gitar." Jawab sang pengusaha.


~~00~~00~~
 
Cukup menohok kan, ceritanya? 


Ada juga cerita yang baru saya lihat di YouTube dari Dompet Dhuafa, judulnya "Motivator Jalanan" yang menampilkan motivator Jay Teroris yang mencoba mengubah kehidupan orang-orang yang dia temui di jalan.

Di dalam sebuah episode, Jay menjumpai seorang pria pengemis yang katanya ingin berhenti meminta-minta kalau sudah punya modal. Ketika ditanya butuh modal berapa, sang pengemis menjawab butuh Rp 5 juta rupiah.

Ketika ditanya butuh waktu berapa lama untuk mendapat uang Rp 5 juta dari hasil mengemis, sang pengemis sadar bahwa waktunya akan sangat lama.

Lalu, Jay memberi saran bahwa sebenarnya pengemis tadi tidak perlu menunggu sampai punya Rp 5 juta, tapi cukup dengan Rp 300 ribu saja. Dia menyarankan agar sang pengemis membeli ayam, lalu dipelihara untuk diternakkan sendiri, tanpa perlu kandang yang besar.

Jay lalu memberi modal Rp 300 ribu kepada sang pengemis, dan dia mengatakan pada sang pengemis bahwa satu tahun kemudian dia akan mengunjunginya lagi untuk melihat apa yang terjadi.

Satu tahun pun berlalu.

Ternyata, pria tadi sudah tidak menjadi pengemis lagi karena ayam-ayamnya sudah bertambah banyak. Meski belum menjadi pengusaha sukses, dia sudah memiliki kandang yang besar untuk menampung ternak-ternaknya, dan yang penting sudah tidak lagi meminta-minta di jalanan.

Tak perlu Rp 5 juta, cukup Rp 300 ribu.

Selain itu banyak juga contoh-contoh lain yang bisa kita lihat, salah satunya cerita tentang seorang supir bus di Bima yang berani mendirikan madrasah gratis karena kepeduliannya kepada pendidikan di tempat tinggalnya, meskipun hanya seadanya.

Ada juga cerita yang cukup fenomenal beberapa waktu lalu, yaitu seorang pemulung yang menabung agar bisa membeli kambing untuk berkurban. Dia tidak menunggu sampai statusnya sebagai pemulung hilang supaya bisa berkurban.

Bahkan sebaliknya, dia berkurban lalu statusnya sebagai pemulung hilang, karena kabarnya saat ini telah berhasil memenuhi kebutuhannya dengan bertani.

Orang-orang seperti itu tidak mau menunggu sampai jadi orang kaya untuk bisa melakukan sesuatu.

Padahal saya sendiri berpikir,

Nanti kalau sudah punya banyak uang baru mau begini, mau begitu, bikin ini, bikin itu...

Padahal, the time is now.

In this moment.

Right here.

Right now.




"Jika Anda tidak mampu memberi makan 1.000 orang, cukup beri makan satu orang saja." - Bunda Theresa



---
Foto:
By Paul Lowry (Flickr: A Fisherman mending his Net) [CC-BY-2.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/2.0)], via Wikimedia Commons


read more...