Latest Posts

19 Mei 2016

Menulis...


Ilustrasi [Sumber]


Tak terbayangkan bagaimana kalau seandainya saya tidak punya tangan dan kaki lengkap seperti sekarang ini.

Mata juga alhamdulillah saya punya sempurna, bisa melihat dengan baik (meski harus pakai kacamata untuk jarak jauh).

Hidung saya juga bisa mencium aroma semerbak.....apapun aromanya....

Telinga, apa lagi. Ada dua lengkap, kanan dan kiri. Bisa mendengarkan apapun yang saya inginkan dengan baik.

Tapi meski begitu, kadang saya merasa diri saya tidak bahagia.

“Tidak bahagia? Sedih?”

Bukan....

Kalau kata Tim Ferriss, lawan dari kebahagiaan itu bukan kesedihan, tapi kebosanan.

Bosan, seperti merasa tidak berdaya meski semua sudah punya.

Tapi selalu saja ada yang menyadarkan saya...

Baru-baru ini saya membaca sebuah berita di situs Haberturk.com tentang seorang pria bernama Mustafa Erol yang sepanjang hidupnya tak bisa menggunakan tangan dan kakinya karena penyakit cerebral palcy (kelumpuhan otak).

Mustafa Erol [sumber: Haberturk]

Meski tangan dan kakinya tidak bisa digunakan, dan sehari-hari hanya bisa menggunakan kursi roda, coba tebak apa yang dilakukan Mustafa...

Menulis buku.

Dan tahukah Anda dengan apa ia menulis?

Ia menulis bukunya dengan mengetik di komputer dengan hidungnya.

Hidungnya!

Akhirnya Mustafa yang berusia 33 tahun ini berhasil menyelesaikan sebuah buku yang dalam bahasa Turki judulnya “Herkes Beni Engelli Sanıyor” (Semua Orang Mengira Saya Cacat) setebal 94 halaman.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya?

Untung hidungnya mancung...

Karena aktivitasnya kuliah, jika ada waktu Mustafa mulai mengetik di depan komputer dengan hidungnya hingga akhirnya ia bisa menyelesaikan bukunya dalam waktu 7 tahun.

Tujuh tahun!

Ini baru namanya persistensi.

Dengan bantuan gubernur provinsi Aydın, buku Mustafa pun bisa dicetak untuk kemudian dibagi-bagikan di sekolah-sekolah supaya bisa menjadi contoh untuk anak-anak.

Ayah Mustafa, Mehmet Emin Erol berpesan...

“Kalau orang cacat saja bisa melakukannya, orang sehat harus bisa melakukannya berkali-kali jauh lebih baik.”

Peristiwa ini membuat saya yang kadang berpikir...

“Aku mah apah atuh...”

Alias merasa tak berdaya dan hampa, jadi tersadar kembali.

Ini juga mengingatkan saya akan satu kutipan dari Imam Al-Ghazali, yang bunyinya...

“Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” - Imam Al-Ghazali







Sumber: 
http://www.haberturk.com/saglik/haber/1240237-serebral-palsi-hastasi-mustafa-erol-kitabini-7-yilda-bitirdi
read more...

30 Maret 2016

Tak Bisa Berbuat Kebaikan...





Kalau tidak tahu cara berbuat kebaikan, paling tidak janganlah berbuat keburukan.





Kebaikan, jangan lakukan sambil dihitung, tapi lakukan sambil disebar.
read more...

08 Agustus 2015

Kala Gus Mus Pergi Ke Jerman...

UniHHHauptgebaeude
Ilustrasi - Gedung Utama University of Hamburg

K.H. Mustofa Bisri atau Gus Mus menceritakan pengalamannya saat diundang ke Jerman. Pelajaran dan motivasi apa yang bisa kita ambil dari cerita ini?

Berikut cerita dari Gus Mus yang merupakan bagian dari ceramahnya di sini:


Catatan: bagian dalam kurung "( )" adalah tambahan dari saya.


….


Saya sudah pernah ke Eropa.

Dan ini suatu takdir semata-mata, karena kalau dibayangkan saya itu hanya mondok thok (saja). Betul-betul santri kendhilen. Saya nyantri itu di Lirboyo, yang pada waktu itu masih sangat, sangat kolot.

Baca koran saja ndak boleh, baca majalah ndak boleh, ndelok bal-balan (lihat sepak bola) gak oleh (tidak boleh). Celananan (pakai celana) ndak boleh. Sekarang Gus Idris dasinan barang (pakai dasi juga).

Saya ndak pernah sekolah formal. Saya hanya di pondok Lirboyo, pondok Krapyak, dan pondoknya ayah saya sendiri. Sudah ndak pernah sekolah, betul-betul santri kendhilen.
Kok saya tiba-tiba diundang ke Jerman?

Mungkin orang sana yang gila.

Saya di sana itu hanya disuruh baca syair. Itu kan gila.

Jauh-jauh diongkosi, kok dikon moco (disuruh baca) syair. Ya saya meskipun ndak ngerti cara Jerman ya mau, baca syair gitu aja bisa lihat Eropa.

Ketika saya mau berangkat ke Eropa, saya itu gundah sekali. Pikiran saya gundah.

Pada waktu itu Romadhon, puasa-puasa kok mau pergi ke negaranya orang kafir ini gimana...

Nanti sembahyang saya bagaimana, puasa saya bagaimana.

Tahu-tahu begitu saya turun di Frankfurt, kemudian saya dijemput menuju ke Hamburg – saya diundang di Universitas Hamburg – di sana ada pusat studi bahasa Asia Pasifik dan bahasa Indonesia.

Saya melihat tercengang sekali.

Negara yang saya bayangkan negara kafir, itu ternyata ajaran Rasulullah saw berjalan dengan tertib di sana. Bersih!

Jalan bersih seperti dipel terus setiap hari.

Jalan, sampah ndak ada. Bersih sekali.

Padahal ndak ada tulisan satupun anna dzofatul minal iimaan, ndak ada. Di sini itu, setiap pasar ada tulisan anna dzofatul minal iimaan, masih diterjemahkan bahasa Indonesia bahwa kebersihan itu adalah bagian dari iman. Itu sampahnya, masya Allah, kayak gunung.

Disiplinnya.

Padahal mereka nggak shalat.

Kalau orang Islam disiplin sudah pantes karena dia disiplin diajari mulai 7 tahun sudah shalat. Tet...subuh shalat subuh....tet, dzuhur shalat dzuhur....tet, ashar sholat ashar.

Mereka itu disiplinnya luar biasa.

Jam setengah 12 malam, sepi jalan perempatan itu. Saya mau nyabrang itu tidak ada mobil lewat. Saya mau nyebrang itu, saya lihat kok banyak orang di sini pada berdiri ndak nyebrang.

Kenapa orang-orang ndak pada nyebrang?

Ternyata di sana ada gambar orang berdiri merah, artinya orang nyebrang ndak boleh. Nanti kalau sudah hijau, baru boleh. Tapi pikir saya, lha wong sepinya kayak gini kok. Saya sudah ingin mlayu (lari) saja.

Nggak sabar...dingin waktu itu. Dinginnya begini kok berdiri di trotoar nggak nyabrang-nyabrang hanya nunggu hijaunya gambar orang di sana.

Saya sudah mau lari saja, karena kebiasaan di Indonesia kan ndak urusan. Ada mobil banyak saja nyabrang apa lagi ndak ada mobil.

Tapi saya malu.

Malu tidak pada orang, tapi pada anjingnya orang kafir. Ada anjing itu begini saja, juga nggak mau jalan. Begitu hijau, anjingnya lari.

Saya mikir masak saya kalah sama anjingnya orang kafir?

(jama'ah tertawa)

Bagaimana amanahnya, kalau mengatakan jam 7, mereka jam 7.

Ketika saya dari Jerman mau ke Perancis, PJKA-nya sana sudah janji jam 6 persis. Saya datang ke stasiun jam 6 satu menit, kepancal saya (ketinggalan). Kereta sudah jalan....hanya satu menit.

Kalau di sini, sudah diumumkan di loudspeaker, “para penumpang harap lekas naik, kereta akan segera berangkat, para pengantar harap lekas turun”, itu buuunyii terus sampai satu jam nggak jalan-jalan keretanya.

Penghormatannya terhadap hukum, jangankan nabrak orang. Nabrak pohon saja orang kena tilang. Dia harus mengganti, keparahan pohon ini tertabrak mobil sampai seberapa.

Penghargaan terhadap manusia, luar biasa. Sopan santunnya.

Saya di Frankfurt itu saya anggap di sini saja. Begitu turun, saya naik pesawat sekian lamanya kecuten karena di pesawat ndak boleh merokok. Turun langsung saya ngerokok.

Petugas datang itu dengan sopan sekali.

“Maaf, Anda merokok ya? Mari saya antarkan ke tempat merokok.”

Saya terus diajak, (tempat) kayak toples gitu, sendirian ngerokok.

Saya lalu berpikir, ini nanti yang masuk surga itu siapa?

(jama'ah tertawa)

Apa yang shalat terus, tapi tidak mengikuti ajaran Rasulullah, atau yang melakukan ajaran Rasulullah tetapi tidak shalat seperti mereka ini.

Ini akibat “diiris-irisnya”: ini agama, ini tidak...

Akhirnya kita anggap urusan disiplin, urusan ndonyo (dunia). Urusan kebersihan, karena ndak ada nahwu shorof-nya (tata bahasa Arab), ndonyo.

Soal penghargaan kepada manusia, urusan ndonyo. Soal kebangsaan, ndonyo.


(Catatan pribadi: shalat tetap wajib bagi yang muslim lho ya...) 


...


Untuk ceramah lengkapnya, silakan dilihat di YouTube :-)



read more...

07 Juli 2015

Belbuk - Beli Buku Online Tinggal Klik, Bisa Pakai Paypal


Toko Buku Online

Bagi Anda yang suka baca buku, saya punya rekomendasi salah satu toko buku online terpercaya yang baru saja saya coba: Belbuk.com

Akhir-akhir ini memang saya cukup sering membeli buku, dan saya sudah mencoba beberapa toko buku online yang berbeda. Semuanya memuaskan, tapi baru kali ini saya belanja buku pakai PayPal, dan prosesnya lancar :-)

Selain itu, sebelumnya saya pernah membeli buku dari toko buku online lain, tapi sudah ditunggu seminggu ternyata buku-buku yang saya minta masih diusahakan ke penerbit, jadi terpaksa saya ganti dengan buku yang lain. Tapi, Sabtu lalu saya coba pesan salah satu buku yang sama di Belbuk.com, dan ternyata langsung dikirim.

Hari Jumat pesan, Selasa berikutnya sampai

Toko buku online Belbuk.com ini sendiri menyediakan berbagai buku dalam bermacam-macam kategori, jadi apapun tujuan Anda membeli buku, apakah itu untuk mencari referensi, memuaskan hobi membaca, koleksi buku komik, dan lain sebagainya, saya rekomendasikan untuk belanja di Belbuk.com.

Prosesnya mudah sekali, tinggal cari buku di kotak pencarian atau jelajahi buku berdasarkan kategori, dan jika sudah tinggal masukkan ke keranjang belanja. Nah, setelah itu tinggal pilih opsi jasa kurir (bisa memilih JNE atau TIKI), bayar (transfer bank atau PayPal), dan tinggal tunggu buku sampai di rumah :-)


Yang saya suka dari Belbuk ini, bayarnya bisa pakai PayPal, jadi kalau Anda punya kartu Payoneer yang terhubung dengan PayPal juga bisa dipakai belanja.

Oh ya, untuk pembayaran dengan PayPal, ketika pembayaran sukses, status di Belbuk.com akan menunjukkan ditangguhkan terlebih dahulu, karena akan ditinjau oleh tim Belbuk untuk menghindari fraud atau penipuan. Tapi dari pengalaman saya, di hari yang sama status sudah langsung berganti menjadi pembayaran diterima. 

Tinggal dibaca :-)

 Jadi, bagi Anda yang ingin belanja buku di Internet, saya rekomendasikan Belbuk.com, terutama bila Anda ingin belanja dengan PayPal atau Payoneer.

Memang benar seperti mottonya, cukup di klik buku tiba di rumah. Belanja sambil tiduran juga bisa :-)






read more...

30 Mei 2015

Tony Robbins - Kaya Dahulu Baru Bebas Finansial


Sebelumnya saya pernah membuat posting yang judulnya Menunggu Sampai Jadi Orang Kaya. Tapi di zaman serba cepat ini, orang yang hanya membaca judulnya saja langsung gatal berkomentar sinis (yang akhirnya saya moderasi komentarnya).

Nah, berikut adalah video seminar bebas finansial (terjemahan bahasa Indonesia) dari Tony Robbins, yang di dalamnya memuat hal yang serupa namun dengan penyampaian yang jauh lebih baik:




"Jika Anda tak menunggu, jika Anda sadar Anda sudah kaya, saya yakin Anda bisa mencapai level kekayaan finansial 10 x lebih cepat daripada ketika Anda memikirkan keterbatasan." - Tony Robbins


"...berapapun uang yang Anda kumpulkan tak akan bisa membuat Anda kaya." Tony Robbins





read more...

09 April 2015

Jim Rohn - Jika Kita Berubah, Hal Lain Akan Berubah untuk Kita



"...tak perlu berbuat apa-apa untuk kondisi ekonomi. Anda hanya perlu bekerja...untuk memperbaiki diri. Membuat diri Anda menjadi lebih bernilai."

"Inilah apa yang mentor saya katakan, salah satu saran terbaik yang pernah saya dapat...Dia berkata, 'Mr. Rohn, jika Anda akan berubah, maka hal lainnya akan berubah untuk Anda."








read more...

22 Januari 2015

Tak Ada yang Berubah, Tapi Berubah Juga

Ilustrasi


Ketika membaca buku "Islam, Risalah Cinta dan Kebahagiaan" tulisan Pak Haidar Bagir, ada satu cerita (yang kemudian saya ketahui berasal dari buku "Man's Search for Meaning") yang mengingatkan saya sekali lagi tentang pentingnya sudut pandang.

Dikisahkan ada seorang pria tua datang untuk bertemu Dr. Viktor Frankl, seorang psikolog ternama, dan pria itu kelihatan dalam keadaan bersedih dan depresi.

Kepada Dr. Frankl pria tersebut memaparkan apa yang menjadi masalahnya selama ini: ia baru saja ditinggal oleh istrinya untuk selama-lamanya.

Pria itu merasa sangat sedih dan tertekan, karena istri yang begitu dicintainya dan telah hidup bersamanya selama ini telah lebih dahulu meninggal dunia, sehingga tidak ada lagi teman yang selalu ada untuk saling berbagi. Perasaan pria tua itu sangatlah hancur, serasa hidup sudah tidak ada maknanya lagi.

Setelah ia bercerita kepada Dr. Frankl, sang psikolog pun bertanya,

"Bagaimana jika justru Anda yang meninggal dunia terlebih dahulu, dan istri Anda harus hidup tanpa Anda?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pria tadi menjawab,

"Jika itu terjadi, maka pastilah dia akan merasa sedih dan menderita."

Mendengar jawaban sang pria, Dr. Frankl menyambung,

“Kalau begitu, berarti istri Anda telah terhindar dari penderitaan; dan Andalah yang menyelamatkannya dari penderitaan. Tapi sekarang Anda harus membayarnya dengan hidup tanpanya.”

Pria tadi tidak mengatakan apa-apa, tapi ia menyalami Dr. Frankl dan pergi dengan lebih tenang dari sebelumnya.

Secara eksternal tidak ada yang berubah. Istrinya tidak akan kembali lagi, tapi pria tadi telah menemukan makna baru dengan mengubah sudut pandangnya.




Foto:

By Hackfish (Own work) 
[CC BY-SA 2.5, GFDL, CC BY-SA 2.5, GFDL or CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons






read more...