31 Oktober 2009

Berbeda Itu Tak Apa: Sudut Pandang yang Bertolak Belakang

Berbeda Itu Tak Apa: Sudut Pandang yang Bertolak BelakangPernahkah Anda memiliki pendapat, opini, atau ide yang berbeda dengan orang lain?

Saya yakin pasti pernah.

Ketika Anda membaca buku, tentang apapun, apakah Anda pernah menemukan teori yang berbeda dari buku yang membahas hal yang sama?

Jika Anda seperti saya, pasti jawabannya pernah juga.

Orang biasanya memiliki perbedaan pendapat dan sudut pandang, karena mereka mendasarkan perbedaan sudut pandang tersebut dari pengalaman mereka masing-masing. Sedangkan, pengalaman tiap orang tidak selalu sama, meski dilakukan dengan cara yang sama. Dalam hidup ini, bahkan 2 x 2 tidak selalu sama dengan 4, tapi bisa 0, 1, 10, 100, dan seterusnya.

Perbedaan ini misalnya bisa kita temukan dari dua orang pengusaha top tingkat dunia, yaitu Andrew Carnegie dan Richard Branson.

Andrew Carnegie dan Richard Branson yang meskipun hidup di zaman yang berbeda, mereka sama-sama pebisnis sukses, dan mereka memiliki gaya dan sudut pandang mereka sendiri dalam berbisnis. Jadi, mereka juga akan mengatakan hal yang berbeda pada orang lain yang ingin belajar berbisnis melalui buku atau kata-kata mereka secara langsung.

Seperti yang tertulis dalam artikel Pelajaran Kehidupan Tak Ternilai dari Andrew Carnegie, Carnegie pernah mengatakan bahwa:

“Taruhlah telur dalam satu keranjang, dan awasi keranjang itu.”

Ini biasanya sering diucapkan ketika orang berbisnis atau berinvestasi. Andrew Carnegie menyarankan agar orang tidak memecah konsentrasinya, sehingga mereka justru “menjatuhkan telur-telur yang sedang mereka bawa.” Andrew Carnegie selalu setia pada perusahaannya yang bergerak di industri baja, yang akhirnya bisa menjadi besar dari waktu ke waktu karena fokusnya.

Namun, Richard Branson memiliki pendapat yang berbeda. Pengusaha yang terkenal akan Virgin Group-nya ini menolak teori fokus dengan mengatakan bahwa:

“Adalah sebuah pengkhianatan bila bisnis membatasi kemampuan orang untuk berkembang.”

Branson mengungkapkan pernyataan tersebut karena Virgin Group memang bergerak di bidang yang sangat bervariasi, mulai dari transportasi, hiburan, keuangan, turisme, media dan telekomunikasi, kesehatan, serta lingkungan hidup. Menurut Branson, fokus bisa membatasi seseorang untuk mengembangkan kemampuannya.

Kemudian, Anda pasti mengenal sosok pengusaha nyentrik, Bob Sadino. Pengusaha yang satu ini memang sering kali membuat orang lain berdecak heran karena “kegilaannya”. Bob Sadino pernah mengatakan bahwa:

“Saya tidak mempunyai tujuan dalam berbisnis.”

Ya, memang Anda tidak salah baca. Bob Sadino pun mengatakan bahwa kita tak boleh bermimpi. Lho, kok begitu?

Menurut Bob, dia tidak setuju dengan “tujuan” dan “mimpi”. Kalau orang sering mengatakan bahwa kita harus punya “tujuan” hidup dan juga “mimpi”, Bob tidak sependapat. Dia mengatakan bahwa ketika kita bermimpi, maka dia justru sudah mendapatkan hasil, sementara kita masih bermimpi. Dia mengatakan bahwa kita harus segera melangkah dan bertindak dalam bisnis, tak perlu bermimpi. Dia juga mengatakan bahwa dia tak melihat peluang, karena peluang tak perlu dilihat lagi, sudah jelas ada jutaan peluang bisnis dari ujung rambut sampai ujung kaki kita.

Sementara, Jack Canfield, seorang pengusaha, pembicara, dan salah satu penulis buku populer “Chicken Soup”, pernah mengatakan bahwa:

“Buatlah daftar tentang 101 hal yang ingin Anda capai dalam hidup sebelum Anda mati.”

Jack mengatakan bahwa mayoritas orang sukses selalu memiliki tujuan dalam hidupnya, sementara hanya 10% orang Amerika yang memiliki tujuan. Lebih lanjut lagi, dia mengatakan bahwa:

“Orang yang tidak memiliki tujuan akan dikendalikan oleh orang lain yang mempunyai tujuan.”

Mereka memiliki pendapat masing-masing, yang didasarkan dari pengalaman mereka. Andrew Carnegie bisa menjadi sangat sukses karena dia fokus, namun Richard Branson juga bisa menjadi sukses luar biasa karena diversifikasi. Bob Sadino bisa sangat sukses sebagai pengusaha karena dia tidak punya tujuan, sementara Jack Canfield juga bisa sukses karena dia memiliki tujuan hidup.

Bahkan, definisi sukses bagi setiap orang pun bisa berbeda. Ada yang mengatakan bahwa sukses adalah perjalanan atau proses, sukses berarti jika Anda bebas finansial, jika Anda bisa membantu orang, dan lain sebagainya.

Jadi, perbedaan pendapat atau sudut pandang itu sudah biasa, dan ini adalah hak setiap orang. Lalu, dari perbedaan pendapat di atas, mana yang Anda percaya dan akan Anda terapkan? Semua terserah Anda.

Ini cocok sekali dengan sikap pebisnis dan penulis terkenal, T. Harv Eker, yang selalu mengatakan hal ini dalam seminarnya:

“Jangan pernah percaya pada apa yang akan saya katakan.”

Mengapa?

Sebab, Harv hanya mengatakan apa yang berhasil dia terapkan dari pengalamannya selama berbisnis. Apa yang dia katakan hanya benar baginya, sementara para peserta seminar hanyalah mendengarkan, dan semua yang mereka dengar belumlah bisa menjadi fakta jika mereka tidak menerapkannya sendiri.

Perbedaan sudut pandang seharusnya tidak boleh menimbulkan perpecahan atau perdebatan yang sengit. Kalau saya sendiri, setuju pada salah satu nasihat Thomas Jefferson:

“Take things always by their smooth handle.”

Oh ya..saya juga setuju dengan pepatah China yang mengatakan bahwa:

"Saya melihat, dan saya lupa.
Saya mendengar, dan saya ingat.
Saya melakukan, dan saya mengerti."

Lihat, dengar, dan lakukan apa yang Anda percaya. Oh ya, pendapat atau komentar apapun dari Anda juga akan saya terima :-)



Gambar: brickmarketingconsulting.com
Sumber: Seputar Indonesia






0 komentar: on "Berbeda Itu Tak Apa: Sudut Pandang yang Bertolak Belakang"

Poskan Komentar


Ingin menambahkan sesuatu dari posting di atas? Ingin berdiskusi?

Semuanya dipersilakan, namun mohon maaf karena komentar dengan bahasa yang kurang layak ataupun spam tidak akan saya munculkan.

Mohon pengertiannya :-)