21 Februari 2010

Buku yang Dibaca Henry Ford, Thomas Edison, dan J. P. Morgan (Bag. 1)

Buku apa yang sama-sama dibaca oleh Henry Ford, Thomas Edison, dan J.P Morgan?

Mungkin ada buku-buku lain yang mereka baca, tapi satu buku yang saya tahu adalah “Pushing To The Front” dari Orison Swett Marden.

Apa saja yang ada dalam buku tersebut?

Seperti banyak buku-buku pengembangan diri lain, “Pushing To The Front” berisikan langkah-langkah yang bisa Anda lakukan untuk mencapai kesuksesan.

Kalau Anda mau membacanya, Anda bisa mendownloadnya gratis di situs Gutenberg.

Namun, karena buku ini ditulis di tahun 1800an, bahasa Inggris yang digunakan masih sulit dicerna, tidak santai seperti buku-buku sekarang. Karena itu, saya akan membantu Anda memahaminya dengan poin-poin yang ditulis dengan bahasa lebih sederhana.

Langkah-langkah mencapai sukses yang dibahas oleh Orison Swett Marden dalam “Pushing To The Front” adalah:

1. Peluang

Seperti dalam artikel “Apakah Anda Melihat Peluang?”, melihat dan membuat peluang itu penting. Orang lemah menunggu peluang, orang kuat membuat peluang.

Hidup sebenarnya penuh dengan peluang. Tiap pelajaran yang Anda dapat di sekolah atau di universitas adalah peluang, tiap artikel-artikel yang ada di surat kabar adalah peluang, tiap transaksi bisnis yang Anda buat adalah peluang, entah peluang untuk memperluas jaringan, menjadi lebih percaya diri, menjadi lebih jujur, dan peluang-peluang lain dalam bentuk yang berbeda.

Dahulu, apel-apel yang jatuh ke tanah tak diabaikan oleh manusia. Namun, ketika satu apel jatuh di atas kepala Newton, peluanglah yang terlihat. Newton melihat bahwa apel tersebut jatuh mengikuti hukum yang sama dengan benda-benda lainnya yang jatuh, yaitu hukum gravitasi. Hukum gravitasi yang dikemukakannya kemudian melahirkan peluang-peluang baru di masa depan.

Orang yang melihat dan mengambil peluang akan menanam benih yang akan menghasilkan buah-buah peluang lain untuk dirinya sendiri dan orang lain.

2. Dicari – ’Seseorang’

Dunia menginginkan ”seseorang”.

Di sini, Orison menyebutnya dengan “man”, pria sejati. Tapi, tentunya ini berlaku untuk pria dan wanita. Intinya, Ia membicarakan tentang ”kematangan” seseorang, yang ia gambarkan seperti halnya kayu.

Bagaimana maksudnya?

Maksudnya, kayu yang bagus haruslah datang dari pohon yang proses pertumbuhannya bagus. Kalau sudah begitu, kayu yang dihasilkan bisa dijadikan piano, atau ukiran-ukiran yang bernilai tinggi.

Kayu dari pohon tersebut haruslah melalui proses yang panjang. Sama halnya seperti manusia. Manusia haruslah menempuh proses yang di dalamnya termasuk pendidikan dan pengalaman, sehingga seseorang yang tadinya hanya anak kecil yang lugu bisa berubah menjadi seseorang yang memiliki kondisi fisik yang baik, bermental baja, dan juga bermoral baik.

Sayangnya, ada banyak anak muda yang meskipun sudah menempuh proses pembelajaran dan lulus dari institusi-institusi terkemuka yang berakhir sebagai seseorang tidak mandiri dan lemah. Padahal institusi tentu tidak mengajarkan mereka untuk menjadi demikian. Orison lebih lanjut mengatakan,

”Banyak sekali pemuda yang menjanjikan, tapi tak pernah berakhir menjadi orang yang matang!”

3. Semua punya Kesempatan

Semua orang punya kesempatan untuk berhasil, termasuk mereka yang kelihatannya tak punya harapan karena keterbatasan materi atau yang lainnya.

Alexander Dumas pernah mengatakan,

”Ketika saya tahu bahwa saya orang kulit hitam, saya hidup seolah-olah saya orang kulit putih, sehingga orang tidak melihat warna kulit saya.”

Kalau Dumas memiliki masalah karena ia kaum ras minoritas, James Sharples memiliki masalah yang tak kalah menantang.

Dahulunya, Sharples sangatlah miskin, tapi ia sering bangun pukul 3 dini hari untuk menyalin buku-buku yang tak bisa ia beli dengan uangnya. Ia juga berjalan 29 Km ke kota Manchester dan kembali lagi setelah bekerja keras untuk membeli peralatan memahat. Ia sangat pandai memanfaatkan waktunya, sehingga bertahun-tahun kerja keras yang ia dedikasikan berhasil membuahkan The Forge, sebuah ukiran baja yang terkenal dan bernilai tinggi.

Kisah yang hampir sama datang dari Lord Eldon, yang dahulunya hanyalah anak yang terlalu miskin untuk bisa pergi ke sekolah. Tapi ia memiliki keinginan yang sangat kuat untuk berhasil. Hampir sama seperti Sharples, Eldon bangun pukul 4 dini hari untuk membaca salinan dari buku tentang hukum yang ia pinjam. Ketika ia pertama kali praktik, penghasilannya kecil sekali. Tapi, ia tak mau menyerah.

Kegigihan akhirnya membuat Lord Eldon menjadi salah satu pengacara terhebat pada zamannya.

OK, masih banyak lagi pelajaran-pelajaran berharga dari “Pushing To The Front”, tapi untuk sekarang sampai di sini dulu bagian pertama artikel ini. Bagian-bagian selanjutnya akan menyusul, jadi kalau Anda tak mau ketinggalan, Anda bisa berlangganan artikel melalui formulir yang ada di sidebar.




Gambar:windsorlibrary.org






0 komentar: on "Buku yang Dibaca Henry Ford, Thomas Edison, dan J. P. Morgan (Bag. 1)"

Poskan Komentar


Ingin menambahkan sesuatu dari posting di atas? Ingin berdiskusi?

Semuanya dipersilakan, namun mohon maaf karena komentar dengan bahasa yang kurang layak ataupun spam tidak akan saya munculkan.

Mohon pengertiannya :-)