07 Juni 2010

Delivering Happiness – Tony Hsieh Berbagi Kisah Suksesnya bersama Zappos

Delivering Happiness – Tony Hsieh Berbagi Kisah Suksesnya bersama ZapposHari ini, 7 Juni 2010 , adalah hari tepat di saat buku Delivering Happiness: A Path to Profits, Passion, and Purpose karya Tony Hsieh (CEO dari Zappos.com) diterbitkan di Amerika Serikat. Jadi, jika sekarang Anda mencarinya di toko-toko buku Indonesia, Anda tak akan menemukannya karena memang belum dijual dan tentunya belum diterjemahkan.

Saya sangat bersyukur sekali, karena saya termasuk salah seorang yang beruntung telah mendapatkan buku ini jauh-jauh hari sebelum diterbitkan untuk publik. Tapi tentu bukan cuma saya yang mendapatkan advance copy dari buku ini, tapi juga banyak blogger di seluruh dunia.

Karena itu, saya akan mencoba berbagi pada Anda tentang buku ini. Siapa tahu nanti Anda berminat membelinya :-)

Terus terang, saya sangat menyukai buku ini. Cerita yang ada di sana disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, dan tentu isinya sangat inspiratif.

Jadi, di dalam buku Delivering Happiness ini Tony mencoba menceritakan bagaimana ia bisa membawa Zappos sebagai salah satu perusahaan terhebat di dunia.

Kisahnya bermula dari Tony Hsieh yang pindah dari Taiwan ke Amerika Serikat bersama keluarganya karena ibunya kuliah di University of Illinois. Sejak kecil, Tony memang dididik untuk menjadi seseorang yang intelek dan memiliki profesi prestisius. Ia bahkan didorong oleh kedua orang tuanya untuk mendapatkan gelar Ph.D (doctor of philosophy).

Namun, sejak kecil Tony sebenarnya ingin memiliki bisnis sendiri. Ia pun sempat bercita-cita untuk memiliki peternakan cacing terbesar dan mendapatkan banyak uang darinya. Saat masih kecil, Tony bahkan sudah sempat membeli cacing-cacing untuk dikembangbiakkan, tapi usahanya kandas.

Ide-ide berbisnisnya pun terus muncul seiring ia tumbuh besar. Saat SMP, ia mencoba menulis dan menjual majalahnya sendiri. Selain itu, ia juga sempat berbisnis kancing pesanan, di mana ia beriklan di sebuah majalah dan mengumumkan bahwa ia akan membuat kancing dengan foto sang pemesan. Bisnisnya sebenarnya sudah cukup sukses, karena ia pun kewalahan membuat kancing pesanan. Namun, lama-lama ia menjadi bosan, dan “mewariskan” bisnisnya itu pada saudaranya.

Waktu pun berlalu, dan di bangku kuliah pun Tony masih terus memiliki ide bisnis yang bermunculan. Di universitasnya, Harvard University, ia dan teman-temannya bahkan sempat menyewakan tempat nonton film dan menginvestasikan $2000 untuk membangun bisnis pizza. Lagi-lagi bisnisnya laris manis, karena mereka satu-satunya penjual pizza di lingkungan kampus.

Nah, ketika lulus kuliah, Tony sempat bekerja di Oracle, sebuah perusahaan software terkemuka. Gaji yang ia terima di sana sebenarnya sangat besar ($ 40,000 / Rp 400 juta per tahun) dan pekerjaannya juga cukup mudah. Tapi justru itulah sebab mengapa Tony bosan dan menginginkan tantangan baru. Ia masih ingin mewujudkan mimpinya untuk memiliki kebebasan dengan bisnisnya sendiri.

Setelah mengundurkan diri dari Oracle, ia dan rekannya pun sempat mendirikan usaha web design, sampai mendirikan LinkExchange yang akhirnya sukses terjual seharga $265 juta (sekitar Rp 2.65 trilyun) pada Microsoft. Belum cukup sampai di situ, Tony dan rekan-rekannya merasa masih ada yang hilang meski mereka sudah kaya raya.

Tony pun bertemu dengan Nick Swinmurn yang menawarkan ide untuk membuat situs yang menjual sepatu. Tony pun setuju, dan akhirnya memberi nama situs tersebut Zappos di tahun 1999, yang diambil dari bahasa Spanyol Zapatos, yang berarti sepatu.

Zappos pun terus berkembang dengan pesat, dari nol penjualan sampai laba kotor $1 milyar tiap tahunnya. Masih belum berhenti sampai di situ, perusahaan raksasa Amazon milik Jeff Bezos pun membeli Zappos di tahun 2009 seharga $1.7 milyar (sekitar Rp 17 trilyun) dan terus berkembang sampai sekarang dengan diversifikasi produk di luar sepatu.

Di bulan Januari 2010, Zappos berhasil masuk jajaran majalan Fortune untuk “Best Companies to Work for" – perusahaan terbaik untuk bekerja.

Apakah rahasia Zappos sampai bisa sesukses ini?

Jawabannya ada pada budaya perusahaan (company culture).

Jika pada diri pribadi seseorang, karakter adalah kunci sukses. Tapi, bagi sebuah perusahaan budaya adalah kunci sukses.

Zappos memperlakukan pekerja mereka lebih dari seorang karyawan. Sampai-sampai, seorang karyawati yang baru saja kehilangan suaminya memutuskan untuk langsung menelpon teman-temannya di Zappos, bukannya anggota keluarga.

Zappos juga mendorong pekerja-pekerjanya untuk bekerja sepenuh hati. Mereka didorong untuk menganggap pekerjaan mereka lebih dari sekedar karir, melainkan sebagai sebuah panggilan.

Our goal at Zappos is for our employees to think of their work not as a job or career, but as calling.

Zappos memiliki prinsip untuk terus memuaskan pelanggan dengan tulus, selalu membuat mereka berkata “Wow!”, dan pelayanan pelanggan lain. Uang dan laba hanyalah bonus bagi mereka.

Apa yang ingin dicapai Tony bukanlah uang semata, melainkan memberikan kebahagiaan kepada dunia melalui Zappos.

Apakah Anda sudah terinspirasi dari kisah Tony?

Kalau ya, berarti Tony sudah berhasil “mengirim kebahagiaan” pada Anda.




--

Note:

Sebenarnya saya mendapat dua kiriman buku, dan saya berencana memberikan saty buku lainnya pada pembaca blog ini. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk memberikannya pada saudara saya sebagai tanda terimakasih...mohon dimaklumi :-)






6 komentar: on "Delivering Happiness – Tony Hsieh Berbagi Kisah Suksesnya bersama Zappos"

  • mohamad mengatakan...

    saya hampir nggak percaya bahwa ada perusahaan yang menerapkan budaya seperti di zappos,
    "Zappos memiliki prinsip untuk terus memuaskan pelanggan dengan tulus, selalu membuat mereka berkata “Wow!”, dan pelayanan pelanggan lain. Uang dan laba hanyalah bonus bagi mereka.
    sangat menyegarkan.....

  • Elsa mengatakan..

    @mohamad

    Memang dalam buku tersebut diceritakan bahwa pada awalnya Tony selalu mencari cara untuk bisa mendapatkan uang dan keuntungan materi yang banyak dari bisnis-bisnisnya.

    Tapi, seiring waktu berjalan, Tony dan teman-temannya sadar bahwa tujuan mereka sebenarnya bukanlah uang. Mereka ingin bahagia, dan mereka juga ingin memberikan kebahagiaan pada orang lain.

  • Nur Rhahma mengatakan...

    Waah luar biasa pelayanan prima memang memegang kunci sukses penjualan,kepedulian pada pelanggan juga berpengaruh. baca juga artikel kisah sukses ini.

  • Fitrina mengatakan...

    yang paling saya sukai dari buku itu adalah kalimat ini:

    "While we have grown quickly in the past, we recognize that there are always chalenges ahead to tackle. We believe that no matter what happens, we should always be respectful of everyone.

    While we celebrate our individual or team succeses, we are not arogant nor do we treat other differently from he we could want to be treated. Instead, we carry ourselves with a quiet confidence, because we believe that in the long run our character will speak for it self.

    Ask yourself: are you humble when talking about your accomplishments? Are you humble when talking about the company's accomplishments? Do you treat both large and small vendor with the same amount of respect that they treat you?"

    Buku ini sangat menginspirasi saya :)

  • Agorabedding bedding mengatakan...

    Tetapi untuk sekarang ini, apakah budaya Zappos masih sama ya? Kan sekarang sudah miliknya Amazon.com.

  • Bambang mengatakan...

    Saya suka banget sama pelayanan primanya Zappos, semoga bisa diikuti oleh banyak perusahaan-perusahaan ditanah air :D

Posting Komentar


Ingin menambahkan sesuatu dari posting di atas? Ingin berdiskusi?

Semuanya dipersilakan, namun mohon maaf karena komentar dengan bahasa yang kurang layak ataupun spam tidak akan saya munculkan.

Mohon pengertiannya :-)