11 Mei 2011

Siapa Bilang Memberi Lebih Baik Daripada Menerima?



Ok, Nabi Muhammad mengatakan seperti itu (tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah). Bukannya saya menentang, justru saya menulis ini karena saya setuju. Saya sebenarnya teringat salah satu pernyataan T. Harv Eker dalam bukunya, Secrets of the Millionaire Mind.

Harv mengatakan di bab "Wealth File #10" bahwa orang kaya adalah penerima yang bagus, dan orang miskin adalah penerima yang buruk. Memang saya setuju dengan pernyataan tersebut.

Idenya adalah bahwa orang kaya percaya bahwa diri mereka berharga (worthy) dan berhak menerima kekayaan, sementara orang miskin takut dan merasa tidak berharga (unworthy) sehingga mereka tidak berhak menerima kekayaan.


Contohnya, orang miskin ketika dipuji secara tulus mereka justru merasa tidak layak. Mereka juga tidak berani mematok harga tinggi untuk apa yang mereka berikan, bahkan jika apa yang mereka lakukan memang layak diberi harga mahal.

Tapi, lebih lanjut Harv mengatakan bahwa pernyataan "memberi lebih baik daripada menerima" adalah pernyataan yang salah yang diciptakan oleh mereka yang ingin agar orang lain yang lebih banyak memberi dan mereka yang menerima.

Tentu saja saya tidak setuju.

Saya lebih setuju dengan Jim Rohn. Ia mengatakan bahwa "memberi lebih baik daripada menerima karena memberi akan memulai proses menerima."

Lebih baik bukan berarti bahwa yang satu bisa ada tanpa yang lain. Dua-duanya, memberi dan menerima, sama-sama baik. Tapi menurut saya kita tidak bisa menerima jika kita tidak memberi.

Memang bisa saja pengemis terus menerima uang meski mereka tidak pernah memberi apapun, tapi seperti kata Anzia Yezierka (penulis dari Polandia), kemiskinan bisa diibaratkan sebagai sebuah kantung yang berlubang. Meski terus menerima, uang tersebut akan jatuh di tengah jalan.

"Giving is better than receiving because giving starts the receiving process." - Jim Rohn


gambar: visualphotos






20 komentar: on "Siapa Bilang Memberi Lebih Baik Daripada Menerima?"

  • morsas mengatakan...

    yups....pagi-2 dapat hal yg positif nih dimari...makasih share nya..sy jd inget ust.yusuf mansyur.

  • Pondrafi mengatakan...

    suka dengan tulisan ini..

  • JonaStore mengatakan...

    Luar Biasa....
    Sangat termotivasi....
    Dan disini www.jonastore.com suatu solusi membuat hidup semakin lebih berharga.

  • Anonim mengatakan...

    hal yang perlu dihilangkan adalah: setelah memberi merasa lebih tinggi derajatnya.....

  • Yugo mengatakan...

    Topik yang menarik..
    saya jadi teringat komentar teman saya ketika saya bertanya mengenai memberi kepada pengemis,begini katanya :
    "kalau mau memberi ya beri saja,kau tidak usah repot2 mikirin apakah dia memang miskin beneran atau memang profesinya,ikuti saja kata hatimu ingin memberi atau tidak yang penting iklas,manusia suka menghitung untung rugi,tapi bayangkan apakah Tuhan melakukan hal yang sama saat memberi kita rezeki...".
    Memberi memang lebih baik..

  • Elsa mengatakan..

    @Anonim,

    Betul sekali :-)

    @Yugo

    Ya, memang kita tidak usah pusing memikirkan apa yang akan mereka lakukan pada uang yang telah kita berikan. Mau mereka jujur atau tidak, uangnya dibakar, ditabung, atau diapakan terserah mereka karena uang tersebut sudah menjadi milik mereka, yang penting iklas.

    Tapi, saya cenderung tidak suka memberi pada pengemis di jalanan yang kita tidak tahu kondisi mereka sebenarnya. Lebih baik diberikan pada orang terdekat di mana kita sudah tahu kondisi mereka.

  • Edward Rhidwan mengatakan...

    "Idenya adalah bahwa orang kaya percaya bahwa diri mereka berharga (worthy) dan berhak menerima kekayaan, sementara orang miskin takut dan merasa tidak berharga (unworthy) sehingga mereka tidak berhak menerima kekayaan."

    Benar sekali... menjadi sukses atau kaya bukanlah masalah apakah kita bisa atau tidak, namun apakah kita layak atau tidak. Dan saya kira salah satu syarat kelayakan itu yang utama adalah kita harus memandang diri kita "layak untuk mendapatkan" yang terbaik.

    Setuju mbak elsa..
    salam sukses.

  • ajis van suprut mengatakan...

    wow sangat beatiful mind nice....
    logika yang mengalir secara baik dan bisa diterima dengan baik pula. sangat menyentuh hati...
    saya harus berguru kepada mbak elsa sakina...

  • Yoga mengatakan...

    Menurut saya sudah hukum alam, sunatullah..jika kita banyak memberi, maka kita akan banyak menerima..memberi itu menurut saya bukan hanya memberi dalam bentuk materi..namun bisa juga memberi waktu bagi diri sendiri misalnya untuk beribadah, berlatih, berbuat..maka ia akan menerima hasilnya nanti dari hasil pemberiannya bagi diri sendiri. Begitu juga bila memberi kepada orang lain...suatu saat ia akan menerima, bahkan berlipat..

  • Motivasi Hebat mengatakan...

    Hebat! Mantap sekali postingan ini...saya sangat setuju ketika kita memberi kepada siapapun yang membutuhkan. Entah kita dalam kondisi kaya maupun miskin, tetap kita harus memberi bila kita memang bener2 ingin menerima kekayaan dari Tuhan...:)

    Salam Motivasi Hebat!

  • jendela dunia mengatakan...

    sep... keren juga ceritanya

  • harly mengatakan...

    Segala sesuatu tidak harus di hargai dengan uang,
    karena uang hanya berlaku untuk pembayaran/alat tukar di dunia dan tidak untuk alat tukar di akhirat ..

  • Mas Badai mengatakan...

    Ada benarnya juga, nice share bro...

  • Toshiba mengatakan...

    Luar Biasa,ada benarnya juga thanks

  • Anonim mengatakan...

    memberi adalah proses awal untuk menerima, tapi ada syaratnya kita tak pernah berharap untuk menerima

  • Maz Dani mengatakan...

    Memotivasi mas
    mksh bwt sharenya

  • Wawan Siswanto mengatakan...

    Motivasinya bagus banget mas, bisa dijadikan contoh

  • Obat herbal diare mengatakan...

    bener banget tuch..aku suka aertikel motivasinya...LANJUTKAN ! ! !

  • Sayap-Sayap Kehidupan mengatakan...

    tidak selalu segala sesuatu yg sifatnya mensupport satu dengan yg lain, dikaitkan dengan materi,, makna memberi yg diajarkan Rasulullah Muhammad SAW itu sangat luas,, memberi pun dapat juga berupa ilmu yg bermanfaat, dan itu lebih berarti lagi tentunya dibanding hanya berupa materi belaka,, Ibarat seorang nelayan yg lebih senang diberikan kail dan umpannya, daripada menerima ikan secara cuma-cuma,, be wise,,

  • Elsa mengatakan..

    @Sayap-Sayap Kehidupan

    Ya, memang betul itu.

    Saya cuma kasih contoh dari sudut pandang materi saja, karena materi itu lebih bisa "dilihat" oleh mata manusia daripada ilmu :-)

Poskan Komentar


Ingin menambahkan sesuatu dari posting di atas? Ingin berdiskusi?

Semuanya dipersilakan, namun mohon maaf karena komentar dengan bahasa yang kurang layak ataupun spam tidak akan saya munculkan.

Mohon pengertiannya :-)