07 Juli 2014

Bagaimana Bila Ramalan Itu Benar?

Ilustrasi


Tunggu dulu.

Saya tidak mengajak Anda untuk percaya yang namanya ramalan, dalam hal ini yang bersifat “mistis”, yang bukan berdasarkan data. Lagi pula, menurut keyakinan saya, percaya akan ramalan tidak dibenarkan sama sekali.

Tetapi, hanya ada dua kemungkinan dalam ramalan: benar atau salah.

Dengan hanya adanya dua kemungkinan tersebut, siapa saja bisa membuat “ramalan” atau “prediksi”, dan dia bisa saja benar, bisa saja salah, dan hanya waktu yang akan membuktikan.

Masalah hasilnya bagaimana, itu hanya Tuhan yang menentukan.

Namun, bagaimana bila suatu ramalan itu benar adanya?

Apakah berarti semua usaha kita akan sia-sia?

Saat saya menulis artikel ini, masa tenang kampanye Pilpres 2014 sedang berlangsung. Setelah panasnya kampanye, serang sana, serang sini, hari ini suasana cukup tenang.

Dalam masa kampanye kemarin, saya mendengar kabar tentang ramalan-ramalan yang mengatakan calon mana yang akan menjadi presiden. Dan ramalan tersebut hasilnya berbeda-beda. Ada yang meramal si A menjadi presiden, dan ada yang meramal si B menjadi presiden.

Bahkan, muncul juga sebuah tayangan di YouTube tentang sebuah acara televisi di tahun 2005, di mana orang-orang indigo meramalkan sosok presiden tahun 2014.

Dua Ramalan Berbeda...

Ramalan tersebut bisa saja salah. Namanya juga ramalan. Kalau pasti benar itu namanya kepastian. Hehehe…

Tapi bagaimana jika benar? Bagaimana jika apapun yang dilakukan tidak akan mengubah hasil?

Berarti kampanye yang dilakukan sia-sia dong?

Menurut saya, sebenarnya hasil itu tidak penting.

Di mata Tuhan, yang penting adalah proses atau cara bagaimana kita mencapai suatu tujuan.

Contohnya, misalnya tentang rezeki. Kita diajarkan bahwa masalah rezeki sudah diatur Tuhan.

Tapi apakah itu berarti kita tidak berusaha?

Menurut Prof. Quraish Shihab dalam salah satu episode Tafsir Al-Mishbah, rezeki untuk tiap orang memang sudah ditetapkan. Tetapi masalahnya, kita tidak tahu seberapa rezeki kita.

Misalnya Tuhan menetapkan rezeki Si A 100, dan Si B 150. Nah, karena mereka tidak tahu, maka kewajiban si A dan si B adalah berusaha sebaik-baiknya. Kalau misalnya Si A dan Si B sudah menyentuh batas 100 dan 150, maka itulah yang mereka dapatkan.

Kalau Tuhan menghendaki Si A hanya boleh mendapat 100 dan Si B 150, maka usaha apapun yang mereka lakukan tidak akan mengubah hasil, kecuali atas kehendak-Nya.

Tetapi, apa yang dinilai sebenarnya cara Si A dan Si B berusaha. Apakah dengan korupsi? Apakah dengan mencuri? Menipu? Memeras?

Kebetulan saya juga baru gagal lagi dalam sebuah kontes blog (curhat…hehehe). Padahal saya sudah yakin sekali bisa menjadi salah satu pemenang, mengingat yang dinilai adalah peringkat di mesin pencari Google, bukan kualitas penulisan.

Tapi apa daya, ketika pengumuman dilakukan, nama saya tidak ada sama sekali.

Setelah saya cek lagi, ternyata saya kurang teliti. Saya ternyata belum mematuhi semua peraturan yang ada dalam menulis artikel. Padahal saya merasa sudah mengecek berulang-ulang sebelum kontes selesai.

Apa yang terjadi, terjadilah. Yang menjadi masalah bukanlah menjadi juara atau tidak, tetapi lebih dari itu.

Bagaimana cara mencapai kemenangan? Bagaimana menyikapi kekalahan atau kemenangan?

Bagaimana memanfaatkan kemenangan, dan bagaimana mengubah kekalahan menjadi hal positif?

Tuhan tidak menilai seseorang dari apakah dia juara satu atau tidak.

Nah, kembali lagi ke masalah presiden.

Bila memang benar calon tertentu sudah ditakdirkan menjadi presiden, maka sebenarnya apa yang paling penting adalah bagaimana kedua calon tersebut berusaha, alias berkampanye.

Apakah dengan cara yang halal, atau menghalalkan segala cara?

Kita sebagai pemilih juga sedang diuji. Bagaimana kita menyikapi perbedaan pilihan? Apakah dengan saling membenci, atau saling menghargai?

Cara kita menyikapi kemenangan dan kekalahan juga akan dinilai oleh Tuhan.

Apakah yang menang akan lupa daratan? Apakah yang kalah akan mengumbar amarah?

Sebab hidup tidak lain hanyalah sebuah ujian semata.




Image By Lehnert & Landrock [CC-BY-SA-2.5 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.5)], via Wikimedia Commons







6 komentar: on "Bagaimana Bila Ramalan Itu Benar?"

Posting Komentar


Ingin menambahkan sesuatu dari posting di atas? Ingin berdiskusi?

Semuanya dipersilakan, namun mohon maaf karena komentar dengan bahasa yang kurang layak ataupun spam tidak akan saya munculkan.

Mohon pengertiannya :-)