05 September 2014

Bisakah Ini Disebut Keajaiban?

"Ada dua cara menjalani kehidupan. Pertama seakan tak ada keajaiban sama sekali. Kedua seakan semuanya adalah keajaiban."


Seperti yang pernah saya ungkap sebelumnya, saya percaya bahwa keajaiban atau mukjizat itu bukan hanya hal-hal seperti lolos dari kecelakaan maut, sembuh dari penyakit parah, menang undian milyaran, dan hal-hal serupa lainnya.

Saya percaya bahwa hal-hal kecilpun merupakan keajaiban.

Dua minggu terakhir ini saya merasa mengalami beberapa keajaiban. Tapi mungkin bagi banyak orang ini bukan keajaiban, hanya hal biasa saja.

Tak mengapa.

Memangnya seberapa “ajaib” sih?

Yang pertama, sekitar dua minggu lalu saya memutuskan untuk berbelanja online di Bhinneka.com, untuk mengganti notebook saya yang sudah “sekarat”. Karena nama besarnya, saya sudah tidak ragu lagi berbelanja di Bhinneka meskipun waktu itu kali pertama saya.

Setelah menemukan produk yang tepat, hari Sabtu saya langsung transfer ke Bhinneka. Setelah itu mulai muncul rasa khawatir karena saya membaca review-review yang ada di Internet.

Seperti biasa, orang cenderung menulis review paling bagus kalau ada komplain. Dengan penuh emosi dari hati yang terdalam, menulis review negatif yang panjang memang sangat mudah.

Kalau bagus, biasanya orang justru tidak menulis review, kecuali ada hadiahnya :-)

Dengan adanya banyak review negatif seperti di Kaskus, Facebook, atau blog-blog pribadi tentang belanja di Bhinneka.com, saya sudah siap akan kemungkinan yang terjadi. Kebanyakan komplain memang karena pengiriman memakan waktu lama, bahkan ada yang sampai satu bulan lebih.

Tapi karena keperluan saya tidak mepet, jadi saya sudah siap jika barang yang dipesan memakan waktu lama, atau bahkan tidak dikirim dan akhirnya harus meminta refund.

Memang ada sebagian pembeli yang memutuskan untuk refund, karena menunggu itu pada umumnya melelahkan. Apa lagi kalau sampai satu bulan untuk belanja di dalam negeri.

Nah, waktu itu setelah hari Sabtu saya memesan, tiga hari kemudian pihak Bhinneka menghubungi saya.

Apa yang terjadi?

Seperti yang sudah saya duga, mereka mengabarkan bila terjadi keterlambatan pengiriman unit notebook. Mereka mengabarkan bahwa unit baru akan bisa dikirim minggu depan.

Karena saya sudah mengharapkan hal seperti ini, ya saya tidak kaget. Tidak ada rasa kecewa dan saya memutuskan untuk tidak mengeluarkan umpatan-umpatan seperti yang saya baca di beberapa review negatif. Sebenarnya bisa saja meminta refund jika barang belum dikirim, tapi saya putuskan untuk menunggu satu minggu lagi.

Saya anggap saja belanja di Bhinneka seperti sedang belanja di Amazon.com atau eBay.com yang harus menunggu berminggu-minggu karena memang dari luar negeri.

Tapi tentu, saya berharap bisa dikirim lebih cepat, kalau bisa saat itu juga atau esok harinya sudah dikirim. Jadi, ya saya berdoa saja, siapa tahu tidak jadi terlambat. Who knows?

Dan ternyata benar, doa saja dijawab. Esoknya, hari Rabu malam, saya mendapat e-mail bahwa unit sudah dikirim melalui JNE, dan hari Jumat sudah sampai di rumah dengan selamat.

Notebook dari Bhinneka.com

Saya sudah siap menunggu satu minggu, eh ternyata esok hari sudah dikirimkan.

Keajaiban pertama bagi saya :-)

Nggak ajaib ya? Ya sudah deh, nggak apa-apa. Yang pasti itu perasaan saya :-)

Lalu yang kedua, saya sedang mencari-cari kupon atau diskon untuk membeli audiobook di Audible.com, dan kalau bisa dapat gratisan...hehehe. Setelah browsing sana, browsing sini, saya akhirnya tidak bisa menemukan yang gratis, hanya bisa mendapat potongan harga saja.

Tapi karena deal-nya cukup bagus, kira-kira hanya perlu $5 untuk satu kredit yang biasanya $14.95, saya putuskan untuk mengambilnya. Jadilah saya download satu audiobook.

Saya pun mendengarkan audiobook tersebut sampai habis selama beberapa hari, dan kadang saya ulang-ulang. Tapi karena belum puas, saya masih ingin mendownload audiobook baru lagi karena ada satu judul yang muncul di kepala.

Karena kemarin-kemarin sudah mencari dan tidak ada lagi kupon atau gratisan (dan saya tidak punya uang...hehe) ya sudah saya lupakan saja. Nanti saja lagi, siapa tahu ada rezeki.

Beberapa hari lalu, tiba-tiba ada komentar masuk di salah satu blog saya yang berbahasa Inggris. Saya kira hanya spam seperti biasanya, ternyata bukan. Saya memang mengira itu spam karena hampir tidak pernah ada komentar di blog saya itu, dan kalaupun ada isinya spam.

Tapi di artikel yang saya tulis tahun 2013 lalu tersebut, sang komentator hanya ingin memberi tahu, kalau sekarang ada Audible.com.au dan Audible.fr di mana saya bisa mendapatkan free trial untuk kedua situs tersebut.

Wah!

Pas sekali, kebetulan sedang ingin download audiobook baru, eh ada yang kasih tahu kalau ada dua situs Audible luar negeri. Sebelumnya saya sudah memanfaatkan free trial di beberapa situs Audible untuk mendapatkan gratisan, dan dari komentar tersebut saya baru tahu kalau ada dua lagi yang baru.

Langsung saja, saya sedot audibook yang saya inginkan dan sekarang sudah ada di hard drive saya.

Keajaiban kedua bagi saya :-)

Lagi-lagi nggak ajaib ya? Ya udah deh, hehehe.

Yang ketiga, saya mengalami penyakit yang alhamdulillah sudah lama tidak kambuh. Penyakit yang biasanya dialami kaum hawa ini paling parah menyerang saat saya SMP.

Maksudnya, penyakit “iri” akan “kesempurnaan” fisik seseorang, bukan yang lain :-D

Waktu SMP dulu saya sampai meniru gaya rambut teman saya yang cukup populer di sekolah karena penampilan fisiknya, meski akhirnya tidak mirip sama sekali. Sampai-sampai tulisan tangannya pun saya tiru. Tapi akhirnya saya tobat dan jadi diri sendiri..hehehe :-)

Sebagai orang Indonesia, ya saya seperti rata-rata orang. Kulit sawo matang, hidung pesek, tinggi badan biasa saja, di tambah lagi badan saya bisa dibilang berisi meski syukur alhamdulillah saya tidak obesitas :-D

Bagi saya sih, yang penting jaga kesehatan. Kalau yang lain sudah dari sononya begitu.

Ternyata penyakit iri ini kambuh lagi setelah saya melihat seorang penyanyi bule, lebih tepatnya vokalis, di sebuah DVD (original lho, masa'bajakan..hehe) yang baru saya beli.

Dalam hati saya,

“Wah, masya Allah, ini orang kok cantik banget ya. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, matanya biru, rambutnya merah, badannya langsing, suaranya baguuuuuus, lagi..”

Wah, mulai deh.

Saya lalu mulai membandingkan diri saya dengan sang vokalis itu.

Saya kemudian mencoba untuk menghilangkan lagi segala pikiran saya yang merasa diri tidak cantik, tapi agak susah memang. Padahal sebelum-sebelumnya saya sudah tidak peduli, mau kulitnya putih kek, hidung mancung kek, itu kan bule.

Iklan-iklan pemutih di televisi dan berita operasi plastik juga hanya membuat saya berpikir,

Halah...”

Tapi ketika penyakit itu muncul lagi, saya harus bertindak cepat. Lagi pula iri itu kan termasuk kufur nikmat kan ya? Dosa kan ya?

Kemudian pas saya cek timeline Twitter sang artis bule tadi, jreeeengg...

Ternyata muncul sebuah tweet yang artinya kira-kira begini.

“Benar-benar cantik, luar dan dalam! @Lupita_Nyongo ...”

Lha, kok pas banget?

Di tweet tersebut dicantumkan sebuah video YouTube:



Video yang menurut saya inspiratif. Lupita Nyong'o yang merupakan pemenang Oscar ini di mata rata-rata manusia yang indranya terbatas tidak memenuhi standar kecantikan dunia pastinya.

Tapi Lupita berpesan, kalau kecantikan sejati itu tidak bisa dibuat-buat dan dipermak dari luar, tapi harus muncul dari perilaku.

“Beauty was not a thing that I could acquire or consume, it was something that I just had to be.”

Sama seperti kebahagiaan sejati. Tidak bisa didapatkan dari hal-hal material, tetapi dari dalam diri.

Sebab apa yang “sejati” tidak akan pernah hilang, sementara kecantikan fisik bisa hilang, dan uang banyak juga bisa hilang.

Well, ternyata Tuhan langsung memberi saya “obat penawar”-nya. Saya langsung diingatkan, kira-kira begini...

“Eh, itu lho, orang yang kamu iri penampilan fisiknya ternyata berpikir begitu..”

Keajaiban lagi bagi saya :-)

Mungkin hal-hal demikian bukan keajaiban, tapi saya memutuskan untuk mengharapkan keajaiban dan melihatnya sebagai keajaiban, karena hanya dengan demikian saya dapat melihat lebih banyak keajaiban-keajaiban berikutnya.

Miracles do come in small packages!







5 komentar: on "Bisakah Ini Disebut Keajaiban?"

Posting Komentar


Ingin menambahkan sesuatu dari posting di atas? Ingin berdiskusi?

Semuanya dipersilakan, namun mohon maaf karena komentar dengan bahasa yang kurang layak ataupun spam tidak akan saya munculkan.

Mohon pengertiannya :-)