09 November 2014

Menunggu Sampai Jadi Orang Kaya...


Sebenarnya tidak perlu.
Illustrasi - Waktu


Saya ingat sebuah cerita yang awalnya entah dari mana, tapi saya sendiri pertama membaca cerita tersebut dalam buku Four Hour Work Week dari Tim Ferriss.

Ceritanya kira-kira begini...

Ada seorang pengusaha kaya dari Amerika Serikat, lulusan Harvard, yang menemukan seorang nelayan ketika berada di Meksiko.

Sang pengusaha melihat bahwa sang nelayan segera bergegas pulang setelah jumlah ikan yang dia dapat dirasa cukup.

Sang pengusaha kaya pun bertanya,

"Kenapa kamu tidak menunggu lebih lama lagi supaya mendapat ikan yang lebih banyak?"

Sang nelayan menjawab,

"Jumlah ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya."

Kemudian sang pengusaha masih bertanya,

"Lalu sisa waktu luang yang kamu miliki untuk apa?"

"Saya pulang, tidur agak larut, memancing sebentar, menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, bersenang-senang dengan teman, dan bersantai sambil bermain gitar, pak." Jawab sang nelayan.


Nelayan
Mendengar jawaban sederhana itu, sang pengusaha kaya dengan insting bisnisnya dan dari teori-teori yang dia dapat, segera memberi saran pada sang nelayan.
"Kamu seharusnya bisa mencari ikan lebih lama dan mendapat ikan lebih banyak, lalu ikannya kamu jual, lalu uangnya kamu gunakan membeli kapal yang lebih besar, lalu ikan kamu jauh lebih banyak lagi, dan kamu bisa membeli beberapa kapal lagi!

Kamu lalu bisa menjadi pengusaha ikan kalengan yang sukses, lalu pindah ke New York untuk menjalankan usaha, bukannya tinggal di kampung pinggir pantai seperti ini."

Mendengar penjelasan dari sang pengusaha, sang nelayan pun bertanya,

"Tapi butuh waktu berapa lama pak, untuk mencapai itu semua?"

"Kira-kira 15 sampai 20 tahun. Tapi, ketika nanti saatnya tepat, perusahaan kamu bisa melakukan IPO, menjual saham ke publik, dan kamu bisa jadi milyarder!"

"Lalu setelah itu apa, pak?" Tanya sang nelayan lagi.

"Lalu kamu bisa pindah di dekat pantai, tidur agak larut, memancing sebentar, menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, bersenang-senang dengan teman, dan bersantai sambil bermain gitar." Jawab sang pengusaha.


~~00~~00~~
 
Cukup menohok kan, ceritanya? 


Ada juga cerita yang baru saya lihat di YouTube dari Dompet Dhuafa, judulnya "Motivator Jalanan" yang menampilkan motivator Jay Teroris yang mencoba mengubah kehidupan orang-orang yang dia temui di jalan.

Di dalam sebuah episode, Jay menjumpai seorang pria pengemis yang katanya ingin berhenti meminta-minta kalau sudah punya modal. Ketika ditanya butuh modal berapa, sang pengemis menjawab butuh Rp 5 juta rupiah.

Ketika ditanya butuh waktu berapa lama untuk mendapat uang Rp 5 juta dari hasil mengemis, sang pengemis sadar bahwa waktunya akan sangat lama.

Lalu, Jay memberi saran bahwa sebenarnya pengemis tadi tidak perlu menunggu sampai punya Rp 5 juta, tapi cukup dengan Rp 300 ribu saja. Dia menyarankan agar sang pengemis membeli ayam, lalu dipelihara untuk diternakkan sendiri, tanpa perlu kandang yang besar.

Jay lalu memberi modal Rp 300 ribu kepada sang pengemis, dan dia mengatakan pada sang pengemis bahwa satu tahun kemudian dia akan mengunjunginya lagi untuk melihat apa yang terjadi.

Satu tahun pun berlalu.

Ternyata, pria tadi sudah tidak menjadi pengemis lagi karena ayam-ayamnya sudah bertambah banyak. Meski belum menjadi pengusaha sukses, dia sudah memiliki kandang yang besar untuk menampung ternak-ternaknya, dan yang penting sudah tidak lagi meminta-minta di jalanan.

Tak perlu Rp 5 juta, cukup Rp 300 ribu.

Selain itu banyak juga contoh-contoh lain yang bisa kita lihat, salah satunya cerita tentang seorang supir bus di Bima yang berani mendirikan madrasah gratis karena kepeduliannya kepada pendidikan di tempat tinggalnya, meskipun hanya seadanya.

Ada juga cerita yang cukup fenomenal beberapa waktu lalu, yaitu seorang pemulung yang menabung agar bisa membeli kambing untuk berkurban. Dia tidak menunggu sampai statusnya sebagai pemulung hilang supaya bisa berkurban.

Bahkan sebaliknya, dia berkurban lalu statusnya sebagai pemulung hilang, karena kabarnya saat ini telah berhasil memenuhi kebutuhannya dengan bertani.

Orang-orang seperti itu tidak mau menunggu sampai jadi orang kaya untuk bisa melakukan sesuatu.

Padahal saya sendiri berpikir,

Nanti kalau sudah punya banyak uang baru mau begini, mau begitu, bikin ini, bikin itu...

Padahal, the time is now.

In this moment.

Right here.

Right now.




"Jika Anda tidak mampu memberi makan 1.000 orang, cukup beri makan satu orang saja." - Bunda Theresa



---
Foto:
By Paul Lowry (Flickr: A Fisherman mending his Net) [CC-BY-2.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/2.0)], via Wikimedia Commons








6 komentar: on "Menunggu Sampai Jadi Orang Kaya..."

  • pulpn mengatakan...

    cerita yang sangat menginspirasi

  • Elsa Sakina mengatakan...

    @The Jokowi's

    Terimakasih komentarnya, tapi mungkin bisa lebih spesifik lagi poin yang mana dalam artikel, supaya lebih jelas :-)

  • Hengkie mengatakan...

    Saya jg tadinya brpikir gitu, nunggu sukses dlu, ternyata.... benner juga sih... :D
    Wah sangat inspiratif.... naiz artikel (y)

  • Elsa Sakina mengatakan...

    @Hengkie

    Iya, terimakasih sudah kasih komentar :-)

    Btw, saya juga jadi ingat, kalo untuk sisi spiritual / religi, berarti semuanya bisa dilakukan sekarang juga oleh siapa saja.

    Misalnya dari sebuah hadits yang mengatakan bahwa senyum itu sedekah, menuangkan air ke ember saudara itu sedekah, menahan dari perbuatan dosa itu sedekah, dll.

    Bisa dilakukan sekarang juga :-)

  • Cepi Ali Anwari mengatakan...

    Kisahnya menginspirasi sekali.. Banyak mengambil pelajaran dari cerita diatas.

  • Chandra Rahardjo mengatakan...

    Thanks ya mba, terus posting tulisan2an inspiratif seperti ini ya

Posting Komentar


Ingin menambahkan sesuatu dari posting di atas? Ingin berdiskusi?

Semuanya dipersilakan, namun mohon maaf karena komentar dengan bahasa yang kurang layak ataupun spam tidak akan saya munculkan.

Mohon pengertiannya :-)