08 Agustus 2015

Kala Gus Mus Pergi Ke Jerman...

UniHHHauptgebaeude
Ilustrasi - Gedung Utama University of Hamburg

K.H. Mustofa Bisri atau Gus Mus menceritakan pengalamannya saat diundang ke Jerman. Pelajaran dan motivasi apa yang bisa kita ambil dari cerita ini?

Berikut cerita dari Gus Mus yang merupakan bagian dari ceramahnya di sini:


Catatan: bagian dalam kurung "( )" adalah tambahan dari saya.


….


Saya sudah pernah ke Eropa.

Dan ini suatu takdir semata-mata, karena kalau dibayangkan saya itu hanya mondok thok (saja). Betul-betul santri kendhilen. Saya nyantri itu di Lirboyo, yang pada waktu itu masih sangat, sangat kolot.

Baca koran saja ndak boleh, baca majalah ndak boleh, ndelok bal-balan (lihat sepak bola) gak oleh (tidak boleh). Celananan (pakai celana) ndak boleh. Sekarang Gus Idris dasinan barang (pakai dasi juga).

Saya ndak pernah sekolah formal. Saya hanya di pondok Lirboyo, pondok Krapyak, dan pondoknya ayah saya sendiri. Sudah ndak pernah sekolah, betul-betul santri kendhilen.
Kok saya tiba-tiba diundang ke Jerman?

Mungkin orang sana yang gila.

Saya di sana itu hanya disuruh baca syair. Itu kan gila.

Jauh-jauh diongkosi, kok dikon moco (disuruh baca) syair. Ya saya meskipun ndak ngerti cara Jerman ya mau, baca syair gitu aja bisa lihat Eropa.

Ketika saya mau berangkat ke Eropa, saya itu gundah sekali. Pikiran saya gundah.

Pada waktu itu Romadhon, puasa-puasa kok mau pergi ke negaranya orang kafir ini gimana...

Nanti sembahyang saya bagaimana, puasa saya bagaimana.

Tahu-tahu begitu saya turun di Frankfurt, kemudian saya dijemput menuju ke Hamburg – saya diundang di Universitas Hamburg – di sana ada pusat studi bahasa Asia Pasifik dan bahasa Indonesia.

Saya melihat tercengang sekali.

Negara yang saya bayangkan negara kafir, itu ternyata ajaran Rasulullah saw berjalan dengan tertib di sana. Bersih!

Jalan bersih seperti dipel terus setiap hari.

Jalan, sampah ndak ada. Bersih sekali.

Padahal ndak ada tulisan satupun anna dzofatul minal iimaan, ndak ada. Di sini itu, setiap pasar ada tulisan anna dzofatul minal iimaan, masih diterjemahkan bahasa Indonesia bahwa kebersihan itu adalah bagian dari iman. Itu sampahnya, masya Allah, kayak gunung.

Disiplinnya.

Padahal mereka nggak shalat.

Kalau orang Islam disiplin sudah pantes karena dia disiplin diajari mulai 7 tahun sudah shalat. Tet...subuh shalat subuh....tet, dzuhur shalat dzuhur....tet, ashar sholat ashar.

Mereka itu disiplinnya luar biasa.

Jam setengah 12 malam, sepi jalan perempatan itu. Saya mau nyabrang itu tidak ada mobil lewat. Saya mau nyebrang itu, saya lihat kok banyak orang di sini pada berdiri ndak nyebrang.

Kenapa orang-orang ndak pada nyebrang?

Ternyata di sana ada gambar orang berdiri merah, artinya orang nyebrang ndak boleh. Nanti kalau sudah hijau, baru boleh. Tapi pikir saya, lha wong sepinya kayak gini kok. Saya sudah ingin mlayu (lari) saja.

Nggak sabar...dingin waktu itu. Dinginnya begini kok berdiri di trotoar nggak nyabrang-nyabrang hanya nunggu hijaunya gambar orang di sana.

Saya sudah mau lari saja, karena kebiasaan di Indonesia kan ndak urusan. Ada mobil banyak saja nyabrang apa lagi ndak ada mobil.

Tapi saya malu.

Malu tidak pada orang, tapi pada anjingnya orang kafir. Ada anjing itu begini saja, juga nggak mau jalan. Begitu hijau, anjingnya lari.

Saya mikir masak saya kalah sama anjingnya orang kafir?

(jama'ah tertawa)

Bagaimana amanahnya, kalau mengatakan jam 7, mereka jam 7.

Ketika saya dari Jerman mau ke Perancis, PJKA-nya sana sudah janji jam 6 persis. Saya datang ke stasiun jam 6 satu menit, kepancal saya (ketinggalan). Kereta sudah jalan....hanya satu menit.

Kalau di sini, sudah diumumkan di loudspeaker, “para penumpang harap lekas naik, kereta akan segera berangkat, para pengantar harap lekas turun”, itu buuunyii terus sampai satu jam nggak jalan-jalan keretanya.

Penghormatannya terhadap hukum, jangankan nabrak orang. Nabrak pohon saja orang kena tilang. Dia harus mengganti, keparahan pohon ini tertabrak mobil sampai seberapa.

Penghargaan terhadap manusia, luar biasa. Sopan santunnya.

Saya di Frankfurt itu saya anggap di sini saja. Begitu turun, saya naik pesawat sekian lamanya kecuten karena di pesawat ndak boleh merokok. Turun langsung saya ngerokok.

Petugas datang itu dengan sopan sekali.

“Maaf, Anda merokok ya? Mari saya antarkan ke tempat merokok.”

Saya terus diajak, (tempat) kayak toples gitu, sendirian ngerokok.

Saya lalu berpikir, ini nanti yang masuk surga itu siapa?

(jama'ah tertawa)

Apa yang shalat terus, tapi tidak mengikuti ajaran Rasulullah, atau yang melakukan ajaran Rasulullah tetapi tidak shalat seperti mereka ini.

Ini akibat “diiris-irisnya”: ini agama, ini tidak...

Akhirnya kita anggap urusan disiplin, urusan ndonyo (dunia). Urusan kebersihan, karena ndak ada nahwu shorof-nya (tata bahasa Arab), ndonyo.

Soal penghargaan kepada manusia, urusan ndonyo. Soal kebangsaan, ndonyo.


(Catatan pribadi: shalat tetap wajib bagi yang muslim lho ya...) 


...


Untuk ceramah lengkapnya, silakan dilihat di YouTube :-)









7 komentar: on "Kala Gus Mus Pergi Ke Jerman..."

  • Ferrial Pondrafi mengatakan...

    sangat2 menampar nih wejangannya Gus Mus. hehe tp bener sekali Elsa, terkadang yang sudah merasa beragama itu jadi sok paling benar sendiri dan kemudian meng-'iris-iris'-nya jadi: ini agama, ini tidak. padahal nilai2 agama itu harusnya diaplikasikan dalam kehidupan dunia.

  • Elsa Sakina mengatakan...

    @Pondra

    Betul, seperti kata Muhammad Abduh juga,

    "Aku pergi ke Barat dan melihat Islam, tapi tidak melihat Muslim; aku kembali ke Timur melihat Muslim, tapi tidak melihat Islam.”

  • Ferrial Pondrafi mengatakan...

    wah baru tahu ada quote tersebut. bisa jadi bahan renungan bersama.
    coba aku cek siapa itu Muhammad Abduh. thanks ya infonya Elsa.

  • mike mengatakan...

    nice post... bisa menjadi renungan hidup
    salam kenal mbak

  • Bang Ali mengatakan...

    Ini kisah dari Gus Mus mengingatkan kita untuk senantiasa belajar dari hal sepele disekitar kita. Terlebih belajar membenahi diri. Terimakasih telah menginspirasi, salam kenal admin http://www.kiatkiat.com

  • siti zulaikha's blog mengatakan...

    Inspiring Mbak Elsa..

  • Anonim mengatakan...

    aplikasi pemahaman agama harusnya ya untuk dunia mendukung untuk akhirat, namun yg terjadi slama ini dipenggal2 antar dunia dan akhirat ...

Posting Komentar


Ingin menambahkan sesuatu dari posting di atas? Ingin berdiskusi?

Semuanya dipersilakan, namun mohon maaf karena komentar dengan bahasa yang kurang layak ataupun spam tidak akan saya munculkan.

Mohon pengertiannya :-)